
G. Bromo dan pesonanya sudah pasti tak pernah diragukan keindahannya, bukan?
Destinasi wisata kelas dunia ini selalu menjadi incaran para wisatawan. Kemudahan akses menuju puncak dan banyaknya spot foto menarik merupakan salah satu alasan kenapa destinasi ini tak pernah sepi dari pengunjung.
Tak hanya pendaki dan para fotografer, bahkan para penggiat sosial media pun mulai hunting spot foto terbaik di sini. Hal ini tak lain karena saat kabut datang menyelimuti kawasan ini pun, pengambilan foto dari sini tetap oke dan tak pernah mengecewakan.
Nah, tahukah kalian jika keindahan G. Bromo kini bisa dilihat dari beberapa sudut?
Salah satunya dari Puncak Seruni Point, Probolinggo.
Puncak Seruni Point
Seruni Point masih berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Terletak di Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Seruni Point merupakan spot buatan di kaki bukit Gunung Penanjakan dengan empat pilar Tugu Brawijaya, pada ketinggian 2.436 mdpl.
Meski spot buatan, Puncak Seruni Point dibangun dengan dana yang nggak murahan, diresmikan oleh Bu Tantri (Bupati Probolinggo) pada Desember 2018 pembangunan Puncak Seruni Point menelan biaya hingga 5 Milyar. Alhasil Seruni Point dibuat dengan perhitungan yang matang, dengan konsep yang kuat, kokoh dan sangat memperhitungkan keamanan dan kenyamanan wisatawan.

Tak hanya itu keempat pilar Tugu Brawijaya memberi pesona dan daya tarik tersendiri bagi pemburu spot foto unik dan berbeda dari sini. Wiasatawan selain bisa menikmati bentangan alam, hamparan pasir dan puncak G. Bromo, mereka juga bisa memadukan foto panorama empat Pilar Tugu Brawijayanya yang terkesan kuno dan megah dari Puncak Seruni Point.
Menurut Pak Didi (supir hartop yang kami tumpangi) Seruni Point dibangun pemerintah setempat untuk memenuhi keterbatasan tempat dan daya tampung Penanjakan 1 yang makin diminati para pemburu Sunrise Bromo. Oleh sebab itu banyak wisatawan mengenal Puncak Seruni Point sebagai Penanjakan 2.
Karena dari ketinggiannya di 2.436 mdpl G. Bromo yang berketinggian 2.329 mdpl terlihat utuh, sempurna dan memesona dari Puncak Seruni Point. Uniknya kita juga bisa melihat indahnya pesona G. Batok dan G. Semeru dari puncak ini.
Akses Menuju Puncak Seruni Point
Jalur tercepat menuju Puncak Seruni Point menurut kami adalah melalui Cemoro Lawang, Ngadisari, Probolinggo. Jadi, jika teman-teman berangkat dari Surabaya, maka bisa langsung masuk akses Tol Surabaya (Waru) dan turun di Tol Probolinggo Barat (Bromo), dengan biaya tol sekitar Rp 87.000,00 saja.
Selanjutnya ikuti arah jalan yang terus naik hingga masuk Kecamatan Sukapura menuju Terminal Ngadisari. Di dekat Terminal Ngadisari kita bisa melakukan cek point dan pembelian tiket masuk memasuki kawasan G. Bromo.
Akses jalan menuju ke G. Bromo kini kian dipermudah. Baik jalur masuk dari Probolinggo maupun Pasuruan, keduanya sudah tersedia akses tol tercepatnya. Pemerintah kian mempermudah dan mempercantik akses masuk, kerapian serta keindahan destinasi G.Bromo ini.
Eksotisnya Sunrise G. Bromo dari Puncak Seruni Point

Kami sekeluarga sudah beberapa kali ke G. Bromo bersama almarhum Kung dan Uti sebelum beliau berpulang dulu. Jadi, kami sudah pernah menikmati pesona kawah G. Bromo dari dekat, sudah pernah melewati hamparan lautan pasir yang luas dan sudah berswafoto ria di Bukit Teletubis.
Namun kami selalu tergelitik dengan banyaknya foto yang beredar dijagad maya tentang keindahan G.Bromo yang diambil dari ketinggian tertentu, dengan latar tiga gunung saat sunrise ini. Sebenarnya pengambilan fotonya dari sudut mana, sih?
Hingga pertengahan Agustus 2020 tahun lalu, saat destinasi wisata ini resmi dibuka kembali setelah sempat tutup karena kasus si kopit menyerang. Tertariklah kami mencoba destinasi Puncak Seruni Point yang kabarnya bisa melihat keindahan G. Bromo secara luas dan indah dari ketinggian ini.
Berangkat dari Tol Surabaya (Waru) pukul 13.00 WIB, akhirnya kami sampai di Cemoro Lawang, Ngadisari, Probolinggo pada pukul 16.30 WIB.
Jalan yang berkelok dan tak bisa pelan karena khawatir mobil di belakang makin kesulitan mengemudikannya, membuat pak suami harus berkonsetrasi tinggi mengemudikan mobil melewati jalur Cemoro Lawang.
Dikarenakan kondisi tersebut, alhasil ketika sampai di gerbang pos cek point daerah Ngadisari suhu tubuh Pak suami terdeteksi 39 derajat Celcius. Khawatir juga sih, jikalau kami tak diperkenankan masuk kawasan destinasi karena suhu pak suami tadi, namun puji syukur petugas cek point G. Bromo cukup sigap dan memahami situasi yang terjadi.
Akhirnya Pak suami diminta istirahat sebentar dan menikmati udara dingin Ngadisari, setelah itu baru boleh cek suhu tubuh kembali. Dan alhamdulillah suhu tubuh beliau menjadi 36,3 derajat Celcius. Sehingga kami diperbolehkan meneruskan perjalanan menuju hotel untuk istirahat.
Setelah menemukan hotel dan hartop sewaan untuk naik ke Puncak Seruni Point, kami mulai menikmati malam di kawasan G.Bromo.
Belum banyak hotel yang dibuka, pun resto atau tempat makan buat para wisatawan yang datang malam itu. Maklum kedatangan kami adalah hari kedua setelah destinasi Seruni Point resmi dibuka oleh pemerintah Kabupaten Probolinggo, sedangkan loket menuju destinasi kawah G. Bromo juga belum dibuka untuk umum.
Oh ya, di sini tak ada mesin ATM untuk tarik tunai, tapi ada BRI Changger di salah satu toko penjual suvenir. Jadi, jika teman-teman lupa mengambil uang bisa menggunakan jasa layanan ini.
Perjalanan Menuju Puncak Seruni Point
Tepat pukul 2.30 WIB Pak Didi (sopir Hartop yang kami sewa) sudah stanbay di parkiran hotel. Perjalanan dari hotel tempat kami menginap ke Seruni Point hanya butuh waktu 20 menit saja. Beberapa orang ada yang bermobil, naik motor, berkuda bahkan ada yang berjalan kaki
Kami memasuki parkiran hartop di Kawasan Seruni Point sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. Beberapa hartop, motor dan kuda juga mulai berdatangan memasuki kawasan ini.
Langit masih gelap, hanya sinar bulan dan nyala lampu hartop serta motor yang menerangi area parkiran, selebihnya semua gelap. Beruntung pak suami sigap membawa lampu senter, sehingga perjalanan kami menuju Puncak Seruni Point dalam gelap masih ada cahaya lampu senter.
Dari parkiran hartop, kami berjalan menuju jalan beraspal dengan lebar kurang lebih tiga meter. Masih dalam gelap ditemani cahaya lampu senter dan sinar bulan kami mulai menapaki jalanan yang terus menanjak dengan berjalan kaki.
Sebenarnya jalur ini bisa ditempuh dengan naik koda, namun karena saya pernah jatuh dari kuda maka saya bersikukuh jalan kaki. Maklum, saya trauma banget dengan naik kuda, hehe.
Dari sinilah keseruan perjalanan menuju Seruni Point ini dimulai.
Kurang lebih sepanjang 900 meter dengan beberapa kelokan dan jalanan yang terus mendaki, kami harus berjuang dalam gelap hingga sampai ke anak tangga pertama dari 256 anak tangga menuju Puncak Seruni Point.
Jadi saat ke Seruni Point ini, bukan dari area parkiran hartop wisatawan bisa langsung menaiki anak tangga yang ratusan itu. Tapi perlu mendaki dulu dijalanan yang menanjak dan sudah disiapkan dengan kemiringan 45 derajat itu dan tanpa jeda.
Lelah? Itu sudah pasti.
Tapi suhu udara yang sejuk dan banyaknya wisatawan, baik tua maupun muda yang terus semangat berjuang menapaki jalanan menanjak ini, membuat saya berusaha menjaga semangat melangkahkan kaki selangkah demi selangkah mengikuti jalur pendakian menuju anak tangga pertama.
Oleh sebab itu, bagi wisatawan dengan balita menurut saya sangat tidak disarankan di sini, kecuali dia sudah terbiasa mendaki gunung dengan membawa balita. Selain itu stock air putih sangat diperlukan selama pendakian ini.
The Great Wall ala G.Bromo

Meminjam istilah The Great Wall Cina. Bangunan megah dan kokoh berupa barisan 256 anak tangga dengan 7 bordes (titik istirahat) yang terus menanjak menuju Puncak Seruni Point, memang mirip Tembok Besar Cina jika dilihat dari atas. Oleh sebab itu banyak wisatawan mengambil istilah Tembok Besar Cina untuk bangunan anak tangga menuju Puncak Seruni Point.
Nikmati saja perjalanannya tanpa beban, ya Teman!
Karena wisatawan lain pun walau lelah mereka tetap semangat dan riang. Langkahkan kaki selangkah demi selangkah, atur nafas dan istirahat. Jangan lupa meneguk air mineral dan nikmati hawa dingin nan sejuk Bromo. Cara ini merupakan cara terbaik menikmati jalur pendakian ini ala saya.
Bordes sebagai tempat istirahat ketika sudah mulai menaiki 256 anak tangga jangan lupa tetap digunakan. Berupa sebidang lantai datar dengan luas kurang lebih 2 meter persegi sebagai tempat istirahat dan mengatur nafas karena perjalanan menanjak belum usai.
Dan akhirnya, sampai juga kami di penghujung anak tangga. Sekitar pukul empat pagi kami sudah sampai di Puncak Seruni Point. Beruntung di area ini lebih luas, bahkan ada warung makan dan toilet bersihnya juga.

Sambil menunggu detik-detik menjelang sunrise, kami bersantai sebentar menikmati seduhan kopi dan mengisi perut dengan gorengan yang disajikan. Beberapa orang sudah mengambil titik spot terbaik menjelang fajar terbit ke Bangunan Empat Pilar Tugu Brawijaya yang merupakan icon Seruni Point.

Karena masih pandemi, kami bertahan mengambil titik spot matahari terbit dari area warung makan ini saja. Tapi pengambilan foto dari sini tetap oke, koq.
Setelah matahari benar-benar terbit dan beberapa orang sudah mulai turun barulah kami naik menuju Empat Pilar Tugu Brawijaya ini.

Ya Alloh, pemandangan dari sini luar biasa indah. Takjub benar kami dengan keindahan G. Bromo dari Puncak Seruni Point ini.
Bahkan saat update status dengan latar G. Bromo dari Puncak Seruni Point ini, ada teman di chat whatsapp pak suami mengira jika kami sedang berfoto di studio foto dengan latar ala G.Bromo gitu. Serius! Pemandangan dari Puncak Seruni Point benar-benar bak lukisan.
Rasanya beratnya medan pendakian dan lelah hayati saat mendaki tadi terbayar tuntas dengan keindahandan pesona ini. Hingga saat sinar matahari mulai menyengat, kami pun turun menapaki jalur yang sama. Pemandangan pagi hari dari ketinggian di sini juga tak kalah menakjubkannya.
Finally, kami bergegas menuju hotel untuk bebersih badan dan melanjutkan perjalanan ke Malang.
Oh ya, dengan beratnya medan pendakian menuju Seruni Point, ada baiknya teman Blogger persiapkan beberapa hal di bawah ini sebelum ke Seruni Point, ya!
- Kondisi tubuh harus fit
- Bawa air mineral dan makanan ringan
- Bawa jaket dan kaos kaki dobel
- Bawa lampu senter
- Bawa uang secukupnya
- Bawa alas sholat buat kaum muslim
- Perimbangkan saat membawa anak kecil dalam gendongan
Waktu terbaik menunggu dan melihat sunrise Bromo tentu berangkat dini hari sebelum subuh menjelang. Karena mulai pukul 04.00 WIB terjadi perubahan warna langit dari gelap, hingga perlahan muncul sinar matahari.
Datang lebih awal memang langkah tepat sebelum parkiran penuh yang membuat rute pendakian bertambah jauh. Selain itu dengan datang lebih pagi, maka lebih banyak kesempatan memilih spot terbaik eksotis sunrise Bromo dari Puncak Seruni Point.
Bagaimana? Tertarik mencoba keseruan berburu sunrise eksotis G.Bromo dari Puncak Seruni Point?
Jangan lupa Prokes, ya!
Selamat Berwisata!
By,
-Kinan-

81 Komentar. Leave new
Ok seruni point ya. Tidak sia sia bangun dan jalan saat mata musih sepet jam 3 pagi akhirnya terlihat juga keindahan sunrise di bromo pagi hari
Iya, mpo. Lelah hayatipun terbayarkan setelah melihat sunrise G. Bromo dari sini.
Bagus banget semoga nanti bisa liburan bersama keluarga kesana hihi
huwaaa kangen Bromo, tapi anak kayaknya belom boleh ke sana ya sekarang?
Dan kudu daftar dulu kalau mau ke sana, mana cuman boleh milih 1 destinasi pulak 😀
Kapan hari coba liat di web nya tapi selalu penuh di weekend, karena dibatasi pengunjungnya 😀
Setahu saya boleh, koq Mbak Rey. Asal bukan pada moment libur panjang sih, seperti libur Natal, Tahun Baru, Lebaran dan lainnya. Karena biasanya wisatawan membludak.
Iya mbak, jika sikecil masih belum kuat mendaki mending jangan ke Seruni Point dulu mbak.
Sangat seru banget banget bisa ke Bromo lewat Seruni Point. Saya nyaris berangkat lewat Penanjakan, tapi ngga kuat, jadi hanya l/2 jalan. Wah pengin coba lagi lewat Seruni Point. Thanks atas info yang lengkap.
Yuk mbak ke Seruni Point, dijamin seru menikmati jalur pendakiannya, selain itu pengambilan foto dari sini cakep-cakep semua.
Tapi pastikan kondisi tubuh Mbak Ina dan keluarga tetap fit. Karena medannya mayan berat.
Aku sekali ke Bromo, tahun 2011, ya ampun 10 tahun lalu, mBak dari tempat biasa itu Penanjakan ya
Memang jam 2 an gitu sopir hardtop sudah bangunin dan siap nganter kita
Cuma ya gitu, penuh banget orang yang mau lihat sunrise…sampai susah pepotoan haha
Asyik bener ada tempat lain buat menikmati sunrise Bromo , ada Seruni point di Probolinggo
Aku keep infonya, rencana pengin ke Bromo lagi nanti. Karena waktu itu anakku masih kecil jadi dia lupa sudah pernah ke sana 🙂
Saking banyaknya orang, ya mbak jadi susah pepotoan.
Iya Mbak Dian, sekarang ada Penanjakan 2, yaitu Seruni Point ini. Bagus banget lokasinya, bisa ala-ala pendaki kita, hehe.
Monggo mbak, kalau pulkam Kediri, bisa melipir ke sini.
Pas lihat gambar bagian atas yang berkelok buat ke puncak seruni, cakep banget. Apalagi pas bagian foto background gunung Bromo, indah nian nih rekomendasinya Kak Nanik. Noted point²nya
Yess, Kak Fenni. Yang suka travelling menantang, pasti deh penasaran ke sini. Yuk, kak ditunggu seseruannya di sini.
InsyaAllah Kak Nanik,
Semoga daku berkesempatan ke sana. Inginnya pergi dengan pasangan halal biar lebih berkesan, tapi hilal belum kelihatan hihi
Pemandangan sunrise cukup luar biasa anugrah Illahi ketika berkunjung ke Bromo
Iya Mas Ferry, anugerah ilahi ini memang tak tergantikan oleh apapun.
waaaah, dulu belum ada loh ini Seruni Point yaiyalah yaa, udh hampir 10 taun lalu ak terakhir ke Bromo. Enak udaranya dingin dan magic memang moment sunrisenya juara
Wah, saya belum pernah ke Seruni Point ini. Kayaknya saya mau ke sana deh kalau anak saya sudah bisa diajak mendaki. Seruni ini kayaknya seru, nih!
Seru banget Mbak Vicky. Iya, mbak nunggu agak besar si kakak hingga bisa diajak mendaki ke sini.
duh, mauuuuu….
impian banget ke Bromo sesudah nonton filmnya Christine Hakim
indah banget ya? Harus nabung kenceng nih agar segera terwujud
aku belum pernah naik ke Bromo, setiap kali membaca tulisan orang soal bromo ini selalu bikin pengen cepetan ke sana hehe..
Hayuuk Koh Deddy, datang ke Jatim dan mampir ke G.Bromo, hehe.
pemandangan yang luar biasa, sayangnya aku belum mengunjungi Seruni Point, pengen sih … kesana biar lebih mengenal alam
Iya mbak, tujuan kami pun sama karena Bujang kami lebih suka wiasata alam sejak masuk bangku sekolah menengah.
Masya Allah..indah sekali pemandangannya. Saya belum pernah ke Bromo euy. Eh lebih tepatnya belum pernah naik gunung sama sekali huhuhu. Selalu mupeng tiap lihat ada teman yang ke Bromo bareng anak-anaknya.
Wahh cocok nih mbak, G.Bromo tempat wisata yang mudah diakses untuk para pendaki pemula atau bukan pendaki kek saya,hehe.
Saya berencana ke Bromo ini dari kapan tahun belum terlaksana juga mba. Siap merencanakannya lagi setelah membaca pengalaman mba Nani ini, penasaran berburu sunrise di Seruni Point.
Hayuuk Mbak Salma, ditunggu seseruannya di sini, ya mbak.
Puncak Seruni Point wowww, pemandangannya spektakuler banget mba. Saya belum pernah ke Bromo Tengger Semeru. Semoga pengembangan yang dilakukan pemda dan pihak terkait tetap memerhatikan keaslian lansekap kawasan.
Benar mbak, lansekap kawasan tetap harus diperhitungkan dalam pengelolaan kawasan wisata ini.
Saya baru sekali pergi ke Bromo dan kayaknya nyerah deh harus berwisata ke sana. karena fisik saya ga kuat akhirnya jadi ga mood waktu itu. Tapi bagus juga ya ini Puncak Seruni waktu itu belum ada atau saya yg gak tahu
Lewat jalur Pasuruan di Penanjakan 1 saja mbak. InshaaAlloh medannya nggak terlalu berat jika dari sana.
Sangat tertarik untuk menikmati matahari terbit dan pemandangan puncak bromo dari Seruni point ini mbak.
Puncak Seruni Point ini menelan biaya hingga 5 Milyar dalam pembangunannya, wow tapi emang keren banget mbak, jadi nggak usah ke Cina kalau pengen ngerasain naik tangga beton di pegunungan. Cukup ke Probolinggo saja
Hayuk Mbak NanIk, seseruan di sini mbak.
Kalo di Cina medannya datar, kalo di sini medannya menanjak mbak, hehe.
MashaAllah Mbak Nanik. Saya jadi kangen berat dengan Bromo. Dan belum pernah nyoba Seruni point ini. Indah banget sunsetnya. Semoga suatu saat bisa mengikuti jejak Mbak Nanik
Monggo Mbak Annie, semangat taklukkan tantangan pendakiannya.
Ditunggu seseruannya di sini, ya mbak.
Pas banget kemarin-kemarin aku sama temen temen ada niat jalan ke yang nuansanya alam tapi bingung mau kemana. Kayaknya Seruni Point ini aku masukin list ah, pemandangannya indah banget ya mbak..
Mba, kalau ke Bromo baiknya pergi di bulan apa ya? Kayaknya kalau sekarang2 masih galau terus langitnya. Bentar – bentar hujan 😀
Sekitar bulan Juli – Agustus Mbak Mira.
Sebelum musim penghujan.
Kangen banget main ke Bromo, udah lama gak ke situ, terus aku baru ngeh ada the great wall ala Indonesia, apa waktu itu aku kecapekan jadi gak fokus hehe
Duh… saya masih dalam angan-angan nih ingin menikmati suasana di bromo ini. Dulu pernah mau diajak teman touring motor, tapi saya tidak percaya diri waktu itu, heuheuhe.
Btw, kok teman-teman touring saya dulu bisa sampai ke puncak pakai kendaraan sendiri yang dibawa ya, kak? Apa memang ada pengecualian untuk rombongan motor, boleh tidak pakai armada yang tersedia?
ngebayangin Bangunan Empat Pilar Tugu Brawijaya sambil nyruput kopi dan menanti sunrise
huhuhu serasa ikutan ke Bromo
aduh kapan celenganku penuh ya? 😀
Yee, rasanya saya nggak percaya kalo celengan Ambu belum penuh, hehe.
Semoga bisa seseruan di sini bareng keluarga tercintah, ya Ambu.
Blog Ambu sering menginspirasi saya.
wahh cantik banget mbak foto fotonya
jadi kangen buat jalan jalan ke bromo nih
Iya mbak, uniknya G. Bromo itu memang foto-fotonya jadi unik dan menarik.
Karena walau kita pendaki pemula tetap bisa menikmati puncak G.Bromo dengan berswafoto ria dari beberapa titik spot di sini.
Padhal kalo dari puncak gunung yang lain, pasti kesulitan buat pemula seperti saya ini, hehe.
Cantik banget viewnya Kak. Kalau aku memang belum pernah ke Bromo apalagi ke beberapa spot untuk melihat sunrise. Lebih sering ke gunung2 kecil buat ngecamp. Makasih ya atas rekomendasinya, keren banget deh esainya.
Cakep bangeeeet pemandangannyaaaa. Saya langsung jadi pengen ke Bromo. Tapi membayangkan 256 anak tangga, patah semangat. Hufff… wkwkwkkwk…. Mbak, kalau bawa lansia aman nggak ya?
Setelah tahu ada seruni point ini kayaknya saya wajib berkunjung ke Bromo lagi nih. Apalagi sekarang dari Surabaya ada tol langsung ke Bromo ya. Walopun harus mendaki lebih dari 200 anak tangga tapi pasti terbayarkan dengan pemandangan cantik gunung Bromo 🙂
Benar saya pun melihat foto terakhir, bak foto studio dengan latar Bromo. Sungguh-sungguh terasa natural dan hidup. Terbayarkan sudah dengan pemandangan dan alam yang indah, setelah melewati ‘tembok cina’ nya.
Benar Kak Raja, ehh jadi pingin tahu cerita Kak Raja nih kalo seseruan di sini.
Semoga segera bisa hunting ke G. Bromo Kak Raja.
Fotonyaaaa cakep semua mbake
kalo aku ke Bromo sama keluarga pernah nyaris, tapi pas di penginapan pertama, dapat pengalaman super horor… akhirnya kami batalkan hahahaha
Wow pastinya seneng banget bisa menikmati G. Bromo dari ketinggian, apalagi bisa dapat sunrise, hmmm sesuatu banget.
Wah saya terakhir ke Bromo 2014 jadi pengen lagi ke Bromo..tapi masa pandemi ini apakah ada syarat tertentu ya sesampai di Bromo ?
Kabarnya pengunjung dibatasi kak, tapi yang akan ke kawah G. Bromo, lautan pasir, bukit teletubis setahu saya.
Kalau ke Seruni Point dengan beratnya medan, otomatis orang akan bergantian jika ke sini.
Pas banget kemarin-kemarin aku sama temen temen ada niat jalan ke yang nuansanya alam tapi bingung mau kemana. Kayaknya Seruni Point ini aku masukin list ah, pemandangannya indah banget ya mbak..
Berulang kali ke Bromo, ngga pernah bosen. Dan Bromo semakin berbenah dengan di perbanyak tempat berburu sunrise. Kalau dulu hanya ada Panjakam 1 yang kalau lagi berburu sunrise harus rebutan. Tahun berjalan semakin banyak titik point sunrise ya. Bromo memang dikenal mancanegara dengan panorama sunrisenyanyg spektakuler
Selalu ada alasan untuk pergi ke Bromo. Keindahanya tiada habis dipoto dan diceritakan
Bagus sekali pemandangannya mba. Sebagai orang yang suka travelling dan foto-foto, saya pengen banget ke Bromo, tapi sampai sekarang masih belum kesampaian.
Puncak Seruni Point juga kece banget, enggak sia-sia pemerintah setempat merogoh kocek yang sangat mahal untuk membangunnya.
Lihat gunung bromo dari prbolinggo melalui seruni point? widih, seru juga ya mbak. Ada aja ide pemerintah untuk menggaet wisatawan nih. Kebetulan bgt aku belum pernah ke sana nih, bisa jadi ide nanti kalau kapan2 mau jalan nyoba lewat seruni point ya
Wishlist sblum pandemi smpe pandemi hampir 2thn yg belum tercapai, liat dri foto2nya gini aja dah bkin takjub, apalagi liat lgsg kesana
Iya Mbak Vina, naluri travelingnya jadi tergugah, ya mbak.
Kalo kami, intinya selalu jauhi kerumunan sih mbak. Dan selalu pakai masker dan hs setelah beraktivitas apapun.
Cantikk banget view gunung Bromo dari seruni point ya mba. Emg takjub dari dulu sih sama gunung Bromo, kerenn
wah cantik banget view sunrise di bromo ini ya mbak
gunung bromo ini salah satu destinasi wisata andalan jawa Timur ya mbak
aku sendiri sudah lama g ke bromo, semoga sebentar lagi bisa ke bromo
Wuaah aku baru tahu destinasi ini. Ternyata memang baru ya mbak. Ala ala great wall Berlin gitu yahh tapi pastinya khas Indonesia.
Btw kebayang paniknya saat cek suhu 39 derajat mbaak, Alhamdulillah cuman sementara ya auto balik normsl hehe.
Bromo emang gak bisa ditolak daya indah nya ya mba. Spill budgeting nya dong mba, siapa tau taun depan aku sama anak anak dan suami bisa kesana
Ke Bromo 2018 lalu, masih ingat banget bagaimana perjuangannya bisa sampai ke puncak dan berburu sunrise. Dingin buanget ya Mbak. Tapi agak lupa sih apa dulu itu dari Seruni Point atau bukan, nggak ngeh. Seru banget pengin ke sana lagi sama suami.
Wow.. makin keren aja nih Bromo.. aku pernah ke sana 2012, udah lama bgt.. tnyata bnyk yg berubah spt puncak seruni ini.. kudu rencanain ke Bromo nih sama suami.. honeymoon yg kesekian kalinya haha
waa jadi inget kesana dulu, jaman masih muda hehe.. seru yaaa 🙂 gak kelupa deh suasananya, jadi pengen kesana lagi 🙂
Di foto pertama, aku juga sempat mengira kalau foto tersebut diambil di studio atau hasil sunting mba maafkaaan…tapi setelah melihat foto di bawahnya baru aku sadari kalau ini asli. And then, aku penasaran harga sewa hartopnya nih mba.
wah baru tahu ada Puncak Seruni Point dan tempatnya udah serapi ini
kirain harus mendaki beneran sejak awal
oke lah, bisa masuk list nih, semoga bisa jalan-jalan segera
Well noted!!
saya dari dulu memang pengen banget nikmati sunrise di Bromo. Dan postingan ini akan menjadi salah satu referensi untuk saya kalau nnti kesana. Izin boomark yaa Mba~
masya Allah cantik banget mbak pemandangannya. Sampai hari ini belum pernah ke Bromo nih saya dapat pemandangan begini jadi pengen banget bisa ke sana
Baca inu jadi kangen travelling dan berburu sunrise dan sunset. Jadi pengen berburu sunrise di bromo juga nih, soalnya belum pernah.
Belum kesampaian mau ke Bromo
Baca ini malah makin nyesek. Semoga bisa ke sana
Hayuuk kak,tapi kalo hujan jangan lupa bawa jas hujan jika ke sini, ya.
Dan tetap hati-hati karena jalanan yang etrus menanjak ini.
masya allah membaca cerita mbak kinan bahwa jalannya bekelok dan tangganya cukup banyak curam pula kan ya 45 derajat aku jaid ikutan gos ngosan heheh apalagi dalam kondisi glap. tapi masya allah itu indah sekali memang pemandangannya tak heran jika ada yg terkecoh ya haha tapi puas ya dg panorama yang disuguhkan sungguh menunjukkan kebesaran sang pencipta. aku baru dengan seruni point ini by the way
Salah satu destinasi wisata yang ingin saya kunjungi ini gunung Bromo. Keindahan alamnya yang terkenal cantik pasti banyak menjadi incaran ya mbak. Makasih sudah sharing tentang berburu sunrise dari Seruni point, semoga suatu hari bisa berkunjung ke sana.
Jadi kangen ingin ke Gunung Bromo lagi, deh! Terakhir ke sana sekitar tahun 1995,udah lama banget, ya… pasti sudah banyak perubahan di Bromo.
Beneran, Mbak, kalau udah sampai puncak dan melihat keindahan alam yang luar biasa di sana, rasa lelah saat pendakian jadi tidak terasa lagi, ya…
Tak sia-sia menempuh perjalanan yg menguras energi langsung terbayarkan dengan keindahan Bromo. Betul juga kata temannya mbak kalau pemandangan latarnya itu bak lukisan.
Kalau saya jalan ke sana pasti angkat bendera putih deh, nyerah.
Mbak, dilihat dari atas memang mirip Tembok Besar Cina ya bangunan anak tangga menuju Puncak Seruni Point. Wah makin penasaran saya. Akhir tahun rencana pulkam biar bisa ke Bromo lagi terpaksa ditunda, karena dihapusnya cuti bersama. Hiks. Semoga tahun depan:)
MasyaAllah cantiknya pemandangan di Bromo. Saya belum kesampaian menjejak Bromo karena kebanyakan rencana, haha. Tiap ke arah timur gak sampai Bromo, padahal sayang banget orang Jatim belum sampai ke sana. Btw, biaya sewa hartop dan kawan-kawannya berapaan, Mbak?
Aku terkagum sama penampakan jalan berkelok dari atas itu mba.. keren banget! Emang ya lelah berjam-jam akan terganti lunas saat bisa melihat pemandangan alam yang luarbiasa seperti ini ya. Ahhh kapan aku bisa punya nyali naik gunung ya wkwkwkkwk
Duuuuh baca tulisannya mbak Nanik, jadi pengen banget bisa ke Bromo. Aku belum pernah sama sekaliterima kasih deskripsi rincinya, jadi berasa lagi jalan-jalan di Bromo