Sepenggal Kisah tentang Pejuang Melawan Vonis Kanker

“Saya belajar bahwa keberanian tidak akan pernah absen dari ketakutan. Tetapi mereka berhasil menang atas itu. Orang berani bukan mereka yang tidak pernah merasa takut, tapi mereka yang bisa menaklukkan rasa takut itu.”
- Nelson Mandela –

13.30 WIB RS** Kapasari, Surabaya
“Mbak Mar yang kuat, ya ... bagaimana mbak, sudah disampaikan ke suami? Apakah Mbak Mar sudah siap melakukan operasi?” dokter bedah mencoba bertanya dengan hati-hati.

“Sudah dokter. Suami dan saya benar-benar kaget menerima kabar ini. Saya langsung teringat anak saya yang nomor dua saja,” Mbak Mar melanjutkan.

“Mbak Mar, ndak boleh mikir ya ...! Tetap kuat berjuang untuk putra Mbak Mar yang nomor dua,” dokter bedah rumah sakit tetap memotivasi Mbak Mar.

Hari itu Mbak Mar benar-benar down, tak pernah terbersit sedikit pun dalam benak Mbak Mar, jika kanker payudara Stadium 3 bersarang dalam tubuhnya. Mbak Mar merasa tidak pernah makan yang aneh-aneh dan selalu aktif berolah raga. 

Berharap mendapat obat dengan memeriksakan nyeri punggung di sekitar ketiak yang beberapa hari lalu Mbak Mar rasa, mendadak mendapati kenyataan dari hasil laboratorium dan diagnosa dokter, bahwa Mbak Mar didoagnosa terkena kanker payudara Stadium 3. 

Mendengar kata kanker yang penyebarannya sangat cepat saja, kenyataan ini membuat gamang Mbak Mar menatap teriknya matahari Surabaya siang itu. Namun gambaran putra nomor duanya yang masih sekolah di SLB, tetiba terlintas di benak Mbak Mar. Siapa nanti yang akan menjaga, merawat, menemani juga melindungi Si Adek menatap masa depan dengan kasih sayang jika dia sudah tak ada di dunia ini?

“Saya harus kuat, demi Si Adek. Saya tidak boleh banyak mikir. Tuhan pasti punya rencana yang lebih indah.” 

Sambil megarahkan motor menuju rumahnya, Mbak Mar terus berkata pada dirinya sendiri.

Sosok tegar ini, kami memanggilnya dengan sebutan Mbak Mar. Nama lengkapnya adalah Marijati, lahir dan besar di kota Pahlawan, Surabaya. Aktivitas sehari-harinya sebagai tim logistik RS** Kapasari, Surabaya merupakan salah satu relasi kami dari perusahaan farmasi.

Akhirnya untuk menghalau segala kegundahan hatinya, Mbak Mar mulai googling tentang kanker payudara Stadium 3 ini. Segala hal yang berkenaan dengan kanker tersebut Mbak Mar pelajari. Mulai dari makanan yang layak dikonsumsi, bagaimana pola hidup sehat untuk para pasien penyakit ini, juga komunitasnya untuk mencari teman seperjuangan dalam memotivasi diri.

Semua dilakukannya agar tidak menerima informasi yang salah dari orang lain, untuk menguatkan diri sendiri dan terus belajar menikamati takdir Tuhan,  menatap hari-harinya ke depan.

Kanker payudara Stadium 3, berarti kanker tersebut sudah menyebar dari payudara menuju kelenjar getah bening. Oleh sebab itu untuk menghindari penyebaran sel kanker lebih lanjut, dokter bedah rumah sakit menyarankan tindakan operasi pengangkatan pada payudara yang terkena kanker. 

Bagi Mbak Mar sendiri, memutuskan bersedia melakukan operasi pengangkatan payudara bukanlah hal yang mudah, butuh sebuah perjuangan. Selain pergolakan dengan batin sendiri sebagai kaum hawa, Mbak Mar juga harus meminta pendapat suami untuk menerima keputusan ini. Dokter bedah pun menunggu persetujuan suami Mbak Mar untuk melanjutkan tindakan.

Setelah melakukan serangkaian tes dalam persiapan operasi pengangkatan payudara,  maka tindakan operasi pun dilaksanakan. Kurang lebih lima hari pasca vonis kanker yang disampaikan dokter. 

Puji syukur operasi berjalan lancar tanpa kendala. Mbak Mar mulai menjalani proses penyembuhan pasca operasi. Selama proses ini Mbak Mar ditangani oleh dokter spesialis onkologi. Spesialis kedokteran yang menangani dan merawat pasien kanker, baik secara kemoterapi maupun radioterapi. 

Serentetan jadwal kemoterapi selama 4 bulan ke depan non stop mulai dijalani Mbak Mar. Tahukah Kawan bagaimana perjuangan para pasien kanker yang dikemoterapi? Sebagian besar pasien dalam fase ini sering mengalami kelelehan dengan serangkaian gempuran obat kemoterapi yang masuk ke dalam tubuh yang memberikan efek mual dan muntah. Sebagian besar wajah mereka terlihat letih dan pasrah. Karena itu, banyak pasien dianjurkan mengambil cuti bagi yang bekerja, karena waktu terapi bisa seharian dan membuat pasien lemah.

Kemoterapi pada pasien kanker merupakan terapi menggunakan zat kimia berupa obat, salah satunya obat oral dalam proses penyembuhan kanker ini. Tujuannya adalah untuk menghambat atau menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker pada tubuh pasien. 

Dari penjelasan rekan apoteker tempat Mbak Mar bekerja efek samping dari pemberian obat kemoterapi ini memang sering membuat pasien mengalami mual muntah, kehilangan nafsu makan, penurunan sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Selain itu, beberapa pasien juga mengalami kerontokan pada rambut, sulit tidur hingga gangguan psikologi seperti depresi, stres juga cemas. Reaksi masing-masing pasien memang berbeda selama kemoterapi, namun sebagian besar merasakan letih dan lelah dengan serangkain proses yang harus dijalani.

Agar syarat kemoterapi yang dijalani Mbak Mar bisa on schedule sesuai jadwal, berkesinambungan tiap 21 hari dalam 6 kali terapi kemo menerus tanpa jeda, maka pasien diharuskan dalam kondisi Hemoglobin (Hb) minimal di angka 10. Hal ini guna memperoleh hasil maksimal dalam proses kemoterapinya. Padahal banyak pasien pada fase ini mulai meredup semangatnya dikarenakan kesulitan menyeimbangkan kondisi tubuh dari gempuran obat yang menyebabkan kelelahan selama proses kemoterapi. 

Hb pasien jauh dari 10, berarti syarat melanjutkan kemoterapi tidak bisa dijalani, biasanya pasien pada kondisi ini akan diminta mengulang dari awal kemoterapi. Kondisi ini selain menguras fisik, keuangan, pikiran dan kehilangan waktu berharga. Dikhawatirkan juga hasil yang didapat selama kemoterapi menjadi kurang maksimal. Oleh karena itu Mbak Mar selalu berusaha menjaga Hb meskipun kondisi tubuhnya lemah. Dengan berusaha makan meskipun ingin muntah, tetap menjaga semangat, dan berusaha berpikir positif. Agar saat hari ke-21 jadwal kemoterapi selanjutnya Mbak Mar bisa langsung melanjutkan kemoterapi tanpa mengalami pengulangan dari awal kemoterapi.

Pola pikir positif dengan berserah dan berprasangka baik pada Tuhan benar-benar menjadi syarat mutlak untuk pasien bisa melewati fase ini. Selain itu motivasi Mbak Mar untuk terus berjuang demi putra nomor duanya yang bersekolah di SLB juga menjadi kekuatan Mbak Mar mampu melewati fase ini. 

Selama kemoterapi Mbak Mar berusaha tidur teratur. Jam 10 malam sampai jam 4 pagi esok harinya adalah jam tidur Mbak Mar. (Kondisi ini terus Mbak Mar kerjakan meskipun sudah tidak dalam masa kemoterapi) Menurut Mbak Mar dari hasih searching google serta diskusi dengan beberapa apoteker di lingkungan Mbak Mar bekerja, pada jam-jam tidur di atas, racun tubuh banyak yang dikeluarkan sehingga bisa membantu penyembuhan dalam proses terapinya. 

Selain itu, menghindari makan pedas, gorengan, lalapan mentah, serta makan nasi dalam porsi sedang saja juga dilakukan Mbak Mar dalam menjaga pola makannya. Untuk buah, sesuai saran dokter Mbak Mar menghindari makan buah anggur, durian, klengkeng, mangga dan nangka. Madu dan sari kurma adalah kudapan sehat sehari-hari Mbak Mar. Buah yang sering dikonsumsinya adalah Apel dan Jus Jambu

Walau berat olah raga juga terus Mbak Mar lakukan, selain joging setiap minggu selama proses kemoterapi, Mbak Mar mulai intens berenang. Bagi Mbak Mar olah raga renang sangat menyenangkan, menguras energi tapi bisa refreshing dengan bermain air.

foto dengan memakai "wig" 

Akhirnya 4 bulan pun berlalu, puji syukur fase kemoterapi itu sudah berlalu. Dua tahun ke depan Mbak Mar hanya dianjurkan minum obat kanker lanjutan dan rajin kontrol saja. Dari yang Mbak Mar yakini (berdasarkan informasi dokter) dalam kanker tidak ada proses sembuh total. Kemungkinan kanker tumbuh lagi itu selalu ada. Buat kaum hawa, jika masih mengalami menstruasi, kemungkinan risiko kanker tumbuh lagi sangat tinggi. Oleh sebab itu  obat lanjutan yang diminum Mbak Mar ini juga membantu monupouse dini. 

Sadar akan bahaya kanker yang jika tumbuh kembali akan semakin ganas dan menggerogoti organ tubuh yang lain. Mbak Mar berusaha tidak stres dan mikir yang berat-berat dengan memasrahkan semua keputusan hidup pada-Nya. Namun, Mbak Mar menyadari kekuatan terbesarnya berjuang melawan penyakit ini, adalah keberadaan putra nomor duanya yang masih sekolah di SLB. Dia harus kuat demi putranya dan dia yakin ini pun pasti akan berlalu.

Based on true story
Nama rumah sakit disamarkan.

Cerita pendek ini dimuat pada buku antologi You Are My Hero dalam program Nulis Bareng Tim AE Publishing. Judul asli Pejuang Melawan Vonis Kanker.

Salam,

-Kinan-

39 Responses to "Sepenggal Kisah tentang Pejuang Melawan Vonis Kanker"

  1. Semoga penyakit Mbak Mar diangkat dan diberi kesembuhan Allah SWT.
    Dan diberi kekuatan dalam mengasuh putra-putrinya. Aamiin
    Penulisan cerita yang menarik Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.
      Makasih apresiasinya Mbak Dian.����

      Delete
  2. Setuju selau berprasangka baik kepada Allah merupakan kunci untuk menghadapi segala ujian. Mudah2an dengan Allah berikan ujian sakit Mbak Mar makin diangkat derajatnya oleh Allah. Dan Mbak Mar semoga tetap menginspirasi yah untuk pejuang kanker lainnya aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.
      Benar Mbak Mega, jika dilawan malah membuat makin depresi katanya karena gempuran obat kemo-nya jg membuat tubuh makin drop.

      Pasrah dan berserah itu memang kuncinya, walaupun tak mudah juga ya mbak pastinya.
      Puji syukur Mbak Mar sdh melaluinya.

      Delete
  3. Semoga mba Mar diberikan kekuatan dan kesehatan lagi ya mbak, ga ada yang ga mungkin jika Allah sudah berkehendak.

    ReplyDelete
  4. Masyaallah setiap orang yg punya penyakit kanker selalu ada cerita ya. Teman saya dulu leukelmia kasian banget masih muda masih kuliah akhirnya enggak kuat akhirnya meninggal. Sedih kalo diinget inget tapi begitu ya hidup, mulai sekarang emang harus hidup sehat sih, makasih bun sharingnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak Steffi.
      Semoga teman Mb Steffi Husnul Khotimah.
      Aamiin

      Delete
  5. Semoga mbak Mar segera sembuh & tetap bisa membersamai putra yang begitu membutuhkannya. Tetap bersabar menjalani ketetapan-Nya ya, Mbak...

    ReplyDelete
  6. Luar biasa semangatnya Mbak Mar. Semoga beliau sehat terus dan bisa mendampingi putranya hingga tua nanti. Titip salam sama Mbak Mar.

    ReplyDelete
  7. Semoga sakit Mba Mar diangkat dan beliau bisa bersama putranya yang masih membutuhkan ibunya.

    ReplyDelete
  8. Semoga mbak Mar sembuh total dan penyakitnya tidak datang lagi. Suka sedih denger yg sakit kanker. Perjuangannya supaya survive luar biasa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.
      Benar mbak, perjuangan beliau agar tetap survive bukan hal yg mudah.

      Delete
  9. Bacanya jadi berkaca-kaca, teringat tante sendiri yang juga terkena kanker payudara dan semua perjuangannya. Subhanallah. Semoga Mbak Mar tetap tegar menjalaninya. Kisah ini memberikan hikmah juga pada kita tentang waspada kanker dan lebih aware dengan kondisi kesehatan tubuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mb Mira.
      Nikmat luar biasa adalah sehat, bukan yg lain.

      Delete
  10. semoga mbak Mar segera sembuh. Baca ceritanya bikin berkaca-kaca. Informasinya lengkap. Terima kasih mak Kinan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.
      Terima kasih apresiasinya Cikgu ��

      Delete
  11. Masyaallah... aku sampai deg degan bacanya mbak. Alhamdulillah bisa sembuh ya. Semoga Allah memberikan kesehatan dan kesabaran pada mbak Mar. Amiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.
      Iya bunda, demi putranya no 2 yang membutuhkan kasih sayang beliau juga.

      Delete
  12. Salut sama para pejuang kanker. Dukungan dan doa dari keluarga dan orang terkasih sangat membantu proses penyembuhannya. Semoga mba Mar diberikan kekuatan dan kesembuhan. Amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.
      Benar Mbak Betty, dukungan dan doa orang terkasih sangat membantu pula di proses penyembuhan beliau.

      Delete
  13. MasyaAllah menginspirasi sekali kisah Mbak Mar ini, semoga penyakitnya diangkat Allah, dan kita semua diberi kesehatan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.
      Iya mbak, semoga kita semua diberi kesehatan.

      Delete
  14. MasyaAllah, salut dengan Mbak Mar. Pastinya kaget ya mbak, merasa sehat dan rajin olahraga namun mendapatkan vonis kanker stadium 3. Sehat-sehat selalu Mbak Mar

    ReplyDelete
  15. Salut dengan perjuangan mba Mar ini, dengar nama kanker saja sudah membuat saya lemas, memang untuk sembuh ini dibutuhkan dukungan dan motivasi dari berbagai pihak dan motivasi dari diri sendiri juga penting. Saya pernah mendengar Ketofastosis Lifestyle dapat menyembuhkan atau mengurangi penyakit kanker sampai 20%, wallahu'alam bishowab

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi mbak, karena tidak makan nasi dan gorengan juga karbo dan gula kalau enggak salah, ya.

      Delete
  16. Semoga mbak Mar diberi kesembuhan dari penyakit kankernya

    Semoga beliau selalu semangat & optimis untuk bisa sembuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.
      Semoga ya mbak.
      Makasih support doa buat Mb Mar-nya.��

      Delete
  17. Saya selalu salut dengan perjuangan orang² hebat yg Allah beri ujian kehidupan, namun mereka tetap berpikir positif & bersyukur atas apa yg dialami, meski itu pahit sekalipun.

    ReplyDelete
  18. Mbrebes mili jadi bayangin anakny yg nomer 2
    Perjuangan ibu yg luar biasa
    Cinta menguatkan

    ReplyDelete
  19. Dari kisah di atas jelas terlihat klu mbak Mar ini sosok yang kuat. Dia mau berjuang melawan kankernya demi si anak yang masih duduk di bangku SLB. Benar-benar kisah yang luar biasa.

    Doa terbaik untuk kesembuhan mbak Mar.

    ReplyDelete
  20. Kagum. Mbak Mar tabah banget ya. Saya lihat sendiri bagaimana proses kemo para pasien kanker di RS terbesar di Kota Pahlawan. Mereka beraut pasrah namun tak mau menyerah demi bisa terus hidup bersama keluarga mereka

    ReplyDelete
  21. masyaaAllah, saya selalu kagum dengan pejuang-pejuang seperti mbak Mar ini. Semoga diberikan kesembuhan dan diangkat tuntas sakitnya oleh Allah... terima kasih sudah berbagi mb Nanik..

    ReplyDelete
  22. sedih bacanya.. akhir2 ini aku banyak trima kabar temen2 terkena kanker, bahkan baru2 ini ada yg meninggal. semuanya masih muda. kadang yg bikin heran, rata2 mereka itu malah lbh sehat hidupnya dr aku, lbh sering olahraga.. tp tetep kanker ga bisa ditebak ya penyebab sbnernya dr apa. semoga kita semua dijauhkan dr penyakit berbahaya ini ya mba :(.

    ReplyDelete

tambahkan teks diatas kolom komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel