5 Tips Ketika Harus Hidup Berdampingan dengan ART, No 5 Harus Itu!



“Jadi memang bayi M, korban ini sedang sakit makanya nangis terus. Sementara pelaku kesal karena tangis bayi tersebut tidak berhenti, hingga dilakukannya kekerasan,” ucap Kapolresta Depok Kombes Didik Sugiarto.
Dari salah satu adegan juga terungkap, tindak kekerasan yang diperbuat Lomrah kepada M karena tak berhenti menangis. Salah satunya adalah dengan mencubit mulut dan hidung korban. Dihadapan Polisi, Lomrah membunuh M lantaran kesal karena bayi tersebut terus-menerus rewel saat diasuhnya.
“Rewel banget bayinya, tidak mau diam. Saya gendong nangis, saya letakkan di tempat tidur juga nangis. Akhirnya saya kesal, saya cubit, terus saya sumpal mulutnya pakai botol susu,” ucap Lomrah di Polres Depok, Jalan Margonda, Rabu (30/1/19).
“Saya sudah pernah mengasuh bayi selama lima tahun di Sawangan, tapi tidak pernah rewel. Kalau yang ini (bayi M) rewel banget, makanya saya kesal,” ujar Lomrah
http://medan.tribunnews.com/2019/01/30/pengasuh-bayi-sadis-wanita-66-tahun-bunuh-bayi-3-bulan-yang-diasuh-karena-rewel-ini-pengakuannya?page=3.

Astaghfirullahhaladzim ... terus terang saya sedih, merinding, mau marah dan ingin menangis membaca artikel Tribun-Medan.com di atas. Teringat dahulu, di kala bujang kami masih berusia tiga tahun, saat kami pertama kali pindah ke salah satu perumahan di Kota Sidoarjo dari Surabaya. Pernah juga kami memiliki pengalaman buruk, mendapatkan ART yang cukup membuat hati miris.

Seringkali saya heran, bagaimana cara berpikir mereka hingga bisa marah dan menyalahkan bayi dalam asuhannya. Bukankah dia sudah berniat kerja mencari nafkah sebagai pengasuh saat meminta ijin keluarga untuk meninggalkan rumahnya? Tapi kenapa masih saja susah menerima perlakuan bayi yang sering rewel dan merepotkan dalam asuhannya?

Alhamdulillah waktu itu kami bisa melewati masa-masa sulit bongkar pasang ART, hingga saat ini putra kami pun sudah memasuki kelas 8 smp, dalam program smp yang ditempuh hanya dua tahun saja. Puji syukur kehadirat Alloh Swt telah membukakan jalan keluar di setiap masalah ART kala itu. Hingga setiap kami bermasalah dengan ulah ART baru, akhirnya kami bisa mendapatkan ART lain yang lebih baik dalam waktu yang tak lama. 

Bila tidak, tentu kami tak akan mendapati keceriaan lengkapnya sebuah keluarga dengan anak, serta anugerah prestasi dari putra kami ini. Andaikata kala itu terjadi sesuatu yang buruk, baik fisik maupun psikis karena trauma perlakuan ART yang tidak baik pada putra kami, seperti kasus bayi M di atas. #turutberdukaatasmeninggalnyabayiM

Faktanya sejak kejadian KET yang pernah saya alami pada kehamilan saya yang ketiga, delapan tahun yang lalu. Menyebabkan tuba falopi sebelah kanan ini setelah dioperasi menjadi tidak berfungsi seperti di awal. Jadi sejak kejadian itu, bagi saya kemungkinan untuk hamil lagi bagai sebuah impian semu saja.

Mengingat perlakuan buruk  ART tersebut, teringat kejadian beberapa tahun yang lalu sepulang kerja dari luar kota menjelang adzan maghrib menuju rumah di Gedangan, Sidoarjo. 
Betapa kagetnya saya, saat menyadari putra kami satu-satunya yang masih berusia tiga tahun, berada di pojok kamar mandi dalam kondisi tanpa busana, tak ada yang mengurus mandinya, sepertinya dia kedinginan. Otomatis kebutuhan untuk istirahat di rumah setelah perjalanan aktivitas kerja, serta keinginan berkumpul bersama keluarga tercinta dalam suasana santai pun buyar sudah. 

Walau dalam situasi yang tak sesuai harapan, saya tetap bersyukur karena sudah sampai di rumah saat situasi tidak mengenakkan ini terjadi. Minimal saya bisa menyelamatkan psikis putra kami. Dan akhirnya makin paham karakter ART baru kami yang sesungguhnya, tidak  hanya menduga-duga saja atau berdasarkan inputan tetangga.  

Tanpa banyak kata si kecil pun langsung saya handle untuk segera menyelesaikan mandinya, memeluknya dan segera menyuapinya makan, walau dalam kondisi penat. Sedangkan suami, belum sampai rumah kala itu.
Ingin rasanya memaki dan meneriaki si ART tadi agar detik itu juga keluar dari rumah kami. Namun alhamdulillah, pikiran saya masih waras, emosi saya masih terjaga. Beruntung juga, hari itu masih ada almarhum Kakung di rumah meskipun dalam keseharian Kakung hanya memakai alat bantu krek saja. Beliau berkenan menyediakan waktu menginap beberapa hari meninggalkan Uti sendirian di rumah Probolinggo karena masih bertugas mengajar sebagai guru sekolah dasar di sana untuk menemani si kecil karena ART kami yang masih baru.

Anehnya, ketika saya menanyakan ke ART tadi kenapa si kecil mandi tidak dibantu menyelesaikan mandinya, dengan lantang ART saya menjawab dengan logat Maduranya. Maka terjadilah tik tok saya dengan si ART kami ini.
“Kenapa si kecil nggak dibantu menyelesaikan mandinya, Buk? Kenapa dibiarkan duduk mendempis di pojok kamar mandi tanpa baju? Bagaimana jika dia kedinginan? Bagaimana jika nantinya sakit?” tanya Saya.
“Anak kamu itu ... ndak mau mandi, ndak mau makan, susah dia itu!” (dalam dialeg Madura)
“Namanya juga anak kecil Buk, ya, nggak bisa dipaksa lah. Buk N yang harusnya bisa mengambil hati si kecil,” lanjut saya dengan berusaha meredam emosi yang sudah bergejolak.
“Susah anak kamu itu!” (setengah berteriak dengan logatnya)
“Wong anaknya sudah nurut gitu, loh. Ya sudah, dihandle saja,” lanjut Kakung menambahkan.
Dia pun menurut dengan saran Kakung, sejurus kemudian Buk ART itu pun berusaha mengambil si kecil dalam gendongan saya, namun saya menolaknya.
“Nggak usah, Buk. Biar saya saja yang urus.”

Khawatir si kecil kami makin trauma akan ulahnya. Setelah merapikan dan menyuapinya, si kecil pun saya titipkan ke Kakung. Saya bergegas mandi dan mengambil air wudhu untuk segera sholat. Agar hati lebih tenang dan  berharap Alloh Swt segera memberikan kemudahan atas urusan dunia saya ini. Tak lupa saya terus bermunajat dan berdoa semoga Alloh Swt paring welas asih membantu menjaga buah hati kami dari kedzoliman ART kami ini.
Maka detik itu pun saya memutuskan segera mencari ART pengganti untuk mengasuh si kecil dan mengurus rumah di saat saya bekerja.

Mengingat kejadian dengan ART kami ini, sebenarnya dibeberapa kejadian sebelumnya, saya sudah merasa kurang cocok berkomunikasi dengan ART yang satu ini. Usia ART kami di kejadian ini kurang lebih lima puluh tahun. Dalam kesehariannya dia sering memakai bahasa Indonesia dengan aksen Madura. Kami mendapatkannya dari referensi sekuriti kantor perusahaan lama tempat saya bekerja. Info rekan saya tersebut, Buk ART ini mantan TKW di Arab Saudi. 

Tapi jika saya telisik, sepertinya dia TKW ilegal di tahun itu. Buktinya jika dia memberi tahu si kecil kami agar tidak melakukan kesalahan dalam versi dia. Seringkali dia berkata, “Kalau kamu nakal, nanti kamu digorok ... kamu digorok.”
Dan Si kecil kami pun sering menanyakan, apa arti digorok itu, Ma? Astaghfirullahhaladzim ...

Sadar jika diteruskan khawatir psikis putra kami terganggu, mumpung masih ada kakung di rumah maka bergegas kami hunting mencari ART pengganti sambil terus berdoa agar dimudahkan-Nya dalam pencarian ini. 

Selanjutnya kami menyebar informasi jika membutuhkan ART dalam waktu cepat ke semua rekan, tetangga maupun saudara kala itu. Berharap ada beberapa calon ART yang melamar dan sesuai keinginan hati kami.

Tak berapa lama berselang, ada mbak calon ART baik yang menelepon lewat salah satu rekan kerja suami, yang ingin berkomunikasi. Akhirnya kami putuskan untuk mengajak si mbak tadi ketemu di salah satu depot daerah Terminal Purabaya untuk saling mengenal dan menjelaskan apa saja tugas dalam pengasuhannya juga mengurus rumah. Saya pun terus berdoa dan berharap, semoga mbak ini bisa menjadi ART pengganti yang baik buat putra kami.

Setelah deal gaji selesai, dengan memberikan ongkos transportasi pulang pergi dari kota asalnya ke Terminal Purabaya, ditambahkan dengan ongkos transport di hari yang tentukan untuk datang kembali ke Terminal Purabaya sebagai ART resmi keluarga kami.
Akhirnya dengan lega kami bisa menyudahi kerja sama pengasuhan dengan Buk ART ini, bertepatan dengan dia sendiri ternyata juga mengajukan keinginan berhenti bekerja bersama kami.

Alhamdulillah mbak ART kami yang baru ini lebih luwes dalam menghandle putra kami, usianya baru tujuh belas tahun waktu itu. Kami lihat dia sering bermain bersama si kecil dan juga anak-anak kecil tetangga kami. Mulai bermain bola, raket, petak umpet dan lainnya. Dia pun bisa membujuk putra kami jika si kecil kami mulai rewel saat susah makan maupun susah mandi. Mbak ART kami ini seorang yang  jujur dan bisa mengelola uang belanja dengan baik. Dia pun selalu merasa bersyukur jika sudah diterima bekerja bersama kami. Karena dia merasa perlakuan kami baik ke dirinya.

Alhasil, kami bersama mbak ART baik ini hingga putra kami kelas satu sekolah dasar. Karena tuntutan usia di kampungnya, dia pun harus fokus memikirkan pernikahannya. Hingga akhirnya dia menikah dan berhenti bekerja.

Bagaimana dengan urusan ART keluarga kami? Ya ... kami harus hunting lagi, menyebar informasi lagi dan terus melibatkan Alloh Swt lagi dalam doa mencari ART lagi, hehe. 
Alhamdulillah semua sudah terlewati, setelah putra kami menginjak kelas enam sekolah dasar, demi melatih kemandirian putra kami satu-satunya ini. Saya dan suami memutuskan untuk tidak memakai jasa ART lagi. 

Menyadari bahwa buah hati adalah harta yang paling berharga, namun dikarenakan komitmen pekerjaan mungkin mengharuskan Bunda harus tetap bekerja.

Nah, buat Bunda-Bunda muda dengan putra yang masih balita, apalagi yang jauh dari sanak saudara kek kami. Berikut 5 tips yang perlu dilakukan saat harus hidup berdampingan dengan ART, ya Bun. 

1. Selalu Libatkan Alloh Swt Saat Hunting ART
Mendapatkan ART yang baik, bagi saya seperti mendapatkan jodoh. Susah-susah, gampang. Banyak susahnya, sedikit gampang-nya, hihi. ART merupakan perpanjangan tangan pengasuhan kita saat kita beraktivitas di luar rumah, bukan? ART yang baik akan membantu menerjemahkan pikiran-pikiran positif kita dalam pola asuh pada putra kita. Bukan malah semau hatinya. Oleh karena itu setiap hunting ART baru, selalu libatkan Alloh Swt lewat dzikir selama pencarian itu. InshaaAlloh didekatkan dengan ART yang baik, walaupun tentu tak sesempurna yang kita mau. (ini pengalaman saya, sih) #smile

2. Komunikasikan Diawal, Diskrpsikan Pekerjaan yang Harus ART Handle
Sebelum memulai semua aktivitasnya sebagai ART. Ada baiknya jelaskan dahulu dengan terperinci dengan gaya bahasa kita sendiri, apa saja tugas dan pekerjaan rumah serta pengasuhan yang harus ART kita kerjakan. Misalnya pekerjaan dimulai jam 5 pagi, menyapu rumah, membantu memandikan si kecil, menyuapinya. Dilanjut memasak di siang hari jika si kecil sudah tertidur, dan lain-lain.
Usahakan kita sendiri yang mendiskripsikan pekerjaan ART kita diawal masuk rumah loh, ya. Bukan orang tua kita. Karena biasanya akan berpengaruh dengan pendelegasian tugas sebagai pengasuh berikutnya.

3. Tetap Harus Ada yang Mendampingi Dipermulaan ART Bekerja
Walau kita jauh dari sanak dan saudara, akan tetapi saat permulaan ART mulai bekerja di rumah kita, menurut hemat saya tetap harus ada keluarga kita yang mendampingi. Apalagi jika usia si kecil masih bayi, usahakan tetap ada keluarga terdekat yang mengontrol. Pembelajaran terbaik lewat kasus meninggalnya bayi M di Depok, seperti dilansir Tribun-Medan.com di atas.

4. Sempatkan Komunikasi dengan ART
Meskipun kita lelah karena seharian bekerja, namun jangan lupa tetap harus lakukan komunikasi harian dengan ART, ya Bun! Hal ini tak lain agar kita makin mengenal karakter ART kita. Selain itu supaya dalam pengasuh si kecil, bisa sesuai arahan dan harapan kita.
Misal lewat bermain dengan si kecil bersama ART, kita tanyakan aktivitas hariannya juga aktivitas seseharian ini yang dilakukan si kecil apa saja. Sambil disisipi guyonan, tapi tetap berikan arahan dalam pengasuhan.

5. Didik ART Sayang Si Kecil dan Mau Mengasuhnya dengan Hati
Banyak ART niatnya bekerja, hanya demi uang saja dan bukan untuk mengasuh anak. Bunda-bunda yang lain pasti juga prihatin dengan kondisi ini, kan? Saya selalu berusaha dan berdoa, jangan sampai anak terluka psikisnya hanya karena ulah segelintir ART yang tidak bertanggung jawab yang mempengaruhi tumbuh kembangnya. Oleh karena itu bimbing ART kita agar bisa menerima kelebihan dan kekurangan buah hati kita dalam asuhannya. 

Biasanya hal sepele yang saya lakukan diawal kedekatan bayi kami dengan ART baru adalah bagaimana cara ART menggendong dedek bayi. Saya sarankan pada ART baru agar frekuensi hatinya disamakan dulu dengan bayi kami, minimal tenang saat menggendong dan hatinya menerima bayi yang digendongnya. InshaaAlloh dedek bayinya jadi tenang.

Pilihan menjadi bunda pekerja sebenarnya bukan hal yang mudah. Apalagi saat keluarga kecil kita di rantau, jauh dari sanak saudara. Saat memutuskan menjadi bunda pekerja, hal yang sering membuat seorang bunda dilema adalah meninggalkan buah hati ketika masih dalam usia buaian untuk sebuah aktivitas di luar rumah. 

Oleh karena itu memiliki ART yang baik dan tepat merupakan salah satu solusi agar Bunda merasa aman dan tenang saat memutuskan meninggalkan rumah. Jadi, jangan lupa tips no 5 wajib dilakukan, ya Bunda. 😘

Salam

By,
Kinan

30 Responses to "5 Tips Ketika Harus Hidup Berdampingan dengan ART, No 5 Harus Itu!"

  1. Wah pengalaman yg berharga ya mba, saya juga sama ibu yg bekerja tapi Alhamdulillah masih dkt sama saudara, jadi ada yg bantu jaga anakku hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah jika masih ada saudara dekat ya mbak.

      Delete
  2. Iya mbak sya yg baca berita dan liat berita itu di TV Juga sediiiiiiiuh tercabik cabik hati sya krena anak sya Juga baru 5 bulan. Membayangkan hati ibu korban pasti aduhhh bisa gila. Makanya saya memutuskan resign setelah melahirkan dan pindah dri Jakarta ke rumah ortu di Semarang.apalagi di Jakarta itu sya nggak bsa percaya orang.

    Alhamdulillah Allah mengatur segalanya dan mbak bisa mergokin anaknya diperlakukan seperti itu sma Art nya ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, sedih banget ngebayangin bayinya.
      Pingin nangis rasanya.
      Semoga ayah bunda almarhumah bayi M tabah dan diberi kekuatan bisa menjalani hari-hari selanjutnya.

      Delete
  3. memang agak deg-degan sih ya, hehe kalau ngurusin ART. Entahlaah saya enggak berminat pakai ART meski banyak anak nanti, hehe. Mungkin untuk mengurus rumah pakai mesin modern pembantu ruamh tangga aja ya ~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, kalau hanya urus rumah kan sekarang ada go clean Mbak Stef. ��

      Delete
  4. Mashaallah bukan hal yang mudah memang tetapi ini tantangan orangtua zaman milenia seperti itu

    ReplyDelete
  5. Berita semacam ini bukan hanya sekali saya baca/ saksikan, suka geram sendiri lihat prilaku manusia tak punya hati yang sanggup melakukan perbuatan keji sama anak kecil atau bayi. Melibatkan Allah dalam setiap urusan kita tentu adalah keharusan. Sebaik2 penjaga dan pemelihara hanyalah Allah saja.

    ReplyDelete
  6. Saya liat juga berita pembunuhan bayi itu. Ya Allah, teganya. Ga terbayang gimana ortu si bayi itu, hiks.

    Saya ga pernah pake ART karena dulu si sulung pernah dirawat eyangnya saat saya bekerja, di 3 th pertamanya. Sebagai ibu muda saat itu, saya merasa was2 jika bayi sy diasuh orang. Ibu saya pun ga tega, katanya.
    Saat anak kedua lahir, saya sudah resign duluan.

    Tentang kehati2an memilih ART, iyes banget ini, Mbak. Tetangganya saya ada yg bongkar pasang ART karena ga cocok. Ada yg seenaknya sendiri emang. Sampai akhirnya ketemu dg yg pas, sampe anaknya SMP. Betul, itu juga jalannnya spt rezeki yg menghampiri.

    So, 5 tips yg disampaikan Mbak Nanik ini benar semua. Sip :)

    ReplyDelete
  7. Wah, memilih ART ini memang susah susah gampang, pas udah ada yang klik di hati ada saja alasan untuk berhenti ya, itulah mengapa kita memang harus selalu melibatkan Allah dalam setiap halnya, karena memang kita hanya bisa berupaya, selebihnya serahkan kepadaNya, yakin saja. The power of doa itu memang nyata ya mba. Terimakasih untuk sharing pengalaman berharganya mba ��

    ReplyDelete
  8. Problema ibu bekerja biasanya memang seperti ini mba. Aku juga pernah beberapa kali dapet masalah sama ART, untungnya waktu itu masih dalam pengawasan ibuku yang sengaja kudatangkan dari Jogja. Begitu ketahuan si mbak main fisik dan bicara kasar, langsung aku berhentikan di masa kerja yabg baru 2 minggu. Selebihnya masih ada beberapa pengalaman gak ngenakin lainnya sama ART lain. Akhirnya aku milih resign dan asuh anak-anak sendiri.

    ReplyDelete
  9. Aku belum pernah merasakan punya ART khusus untuk mengasuh anak karena masih tinggal bareng orangtua. Andai harus meninggalkan anak-anak bersama ART, nggak kebayang gimana perasaan ini. Sama sekali belum pernah soalnya. Tapi mendengar cerita teman yang bolak-balik harus memutuskan hubungan kerja dengan ART, mencari ART buatku kok seperti menemukan berlian, ya. Betul-betul nggak bisa instant.

    ReplyDelete
  10. Ikut keseel bacanya Mbak..
    Alhamdulillah semua baik-baik saja,terutama putranya
    Karena aku di rumah ART-ku pulang pergi, enggak nginap. Tapi pernah juga punya pengalaman punya ART yang masalah internal keluar semua sampai ke telinga tetangga.
    Duh

    ReplyDelete
  11. Urusan ART ini memang lumayan susah. Sudah susah nyari yang mau, kalau dapat pun belum tentu cocok. Ekstra banget pokoknyaburusan ART ini. Tapi ya bismillah saja, kalau memang dikasih rezeki samaallah, insya Allah ketemu yang baik dan tanggung jawab. Karena juga masih banyak yang baik.

    ReplyDelete
  12. Ikut prihatin dan sedih atas kejadian di atas. Memang harus hati2 dalam memilih ART saat skarang. Krn bukan saja untuk mmbntu pelerjaan rumah saja yg terpenting bisa mengasih dan merawat anak dgn baik saat ortu atau kita bekerja. Gampang2 susah sih mmg cari ART. Org blg rejeki2an. To klu kita punya standart ya bs dilakukan dgn cara meminta tlg rekan atau tetangga kmudian kita berhak "ngetest" mereka. Tips 5 mcm yg mb uraikn udh cucok tuh. Smg dikemudian hr tdk trjdi hal yg tk diinginkan y mb...

    ReplyDelete
  13. Ngeri juga ya kalau dapat ART kayak mantan ART mba. Sampai sekarang, saya paling susah mempercayakan anak2 pada orang lain. Takutnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan tanpa sepengetahuan kami sebagai orang tuanya.

    ReplyDelete
  14. Miris bacanya..saya mencari pengasuh anak dg beberapa syarat & selalu ada yg mengawasi. Klo dirumah ga ada orang lain, saya minta.tolong tetangga untuk sesekali datang ke rumah mengecek.
    Lumayan aman.

    ReplyDelete
  15. subhanallah, pengalaman yang pasti nggak akan terlupakan ya mak. salut karena masih dengan sabar bisa bermitra dengan art di rumah, semoga terus dalam lindungan Allah dan dimudahkan semua urusannya ya mak kinan

    ReplyDelete
  16. Menakutkan sekali memang ya mbak kalau menitipkan anak pada ART. Alhamdulillah saya bisa handle anak tanpa ART. Suka miris kalau lihat berita seperti itu

    ReplyDelete
  17. Haduh, ngerii juga nih. Jadi ingat temen saya, nyari irt tapi yang ngerti agama dan pinter biar bisa ngajari hal positif buat si kecil.

    ReplyDelete
  18. Saya ga pake Art, tapi ini bisa menjadi pembelajaran buat saya. Terimakasih mbak nanik ...

    ReplyDelete
  19. Terima kasih, Mbak. Semoga saat punya anak nanti saya mengingat info ini

    ReplyDelete
  20. Selain persyaratan di atas, saya juga melibatkan anak Mbak. Anak feellingnya kuat. Dia tahu, si Mbak baru ini sayang anak atau enggak. Kalau dr awal mau deket² berarti aman. Kalau takut² dan menolak...berarti si Mbak ngasuhnya engga dari hati.
    Semoga selalu dapet ART yg baik hati dan jujur ya Mbak...

    ReplyDelete
  21. gampang susah ya dapat ART yang sesuai dengan visi kita

    ReplyDelete
  22. duh saya baca kutipan berita itu mau nangis rasanya, mbak. anak saya sendiri saat ini dititipkan ke penitipan karena susah sekali mencari orang yang bisa menjaga anak di rumah. tapi berhubung sekarang hamil anak kedua agak bingung juga gimana nanti apakah mau nyari orang atau dititip ke penitipan aja anaknya

    ReplyDelete
  23. ngeri2 seedap ya mba,, semoga anak2 kita selalu dilindungi Allah dimanapun dia berada ..amiin

    ReplyDelete
  24. Pengalaman adalah guru yang paling berharga.

    Baca berita kaskasus pembuka artikel ini kok hati saya ikut terluka, ya.

    Miris ngebayanginnya.

    Semoga Allah selalu menjaga kita sekeluarga terutama anak-anak kita

    ReplyDelete
  25. Astagfirullahhh..
    Ya Allah..
    Makin parno ama ART!!
    Terus terang alasan terbesar saya rela jadi IRT ya karena gak berani ninggalin anak ama ART.

    Dulu, waktu si kakak masih bayi, saya udah nemu yang jagain.
    Tapi waktu itu di rumah ga ada siapa2, akhirnya menjelang saya masuk kerja, kami terpaksa balik ke rumah mertua, agar si bayi ada yang jagain dengan baik.

    Jangankan ditinggal sama ART, dititipin di daycare juga bikin sedih, anak saya sering dibully secara halus.
    Sedih rasanya.

    Semoga anak2 selalu dalam lindungan Allah ya, aamiin :)

    ReplyDelete
  26. Duuuh, kalau udah ngomongin ART atau baby sitter gini mah susyeh ya. Antara butuh dan ga tapi perlu jasanya. Alhamdulillaah buat kita atau teman2 yang masih punya orangtua deh. Meskipun ada ART tapi tetap dalam pengawasan. Ga dipercayakan begitu aja. Sama2 saling menghargai, memahami mudah2an hubungan majikan dan ART berjalan mulus ya.

    ReplyDelete
  27. Dilematis akan ART ya mbak. Aku punya ART sejak 11 tahun lalu belum pernah ganti, namun karena usia si Mbah ART dah mulai sepuh, kestabilan emosi pun makin kurang sehingga skrng harus banyak meluangkan waktu untuk menenangkan emosi ART dan ke anak-anak juga

    ReplyDelete

tambahkan teks diatas kolom komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel