Sempurna dibalik Kisah House of Sampoerna


Ndik Suroboyo iku onok kolom sing iwak-e lek diitung jumlahe kudu 9.
Lek onok salah siji iwak-e sing mati, kudu cepet diganti, cek ne jumlah-e kudu tetep 9.
Laopo koq jumlah-e kudu 9?
Terus ndik endi panggonane kolam iku?
(Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe, Dukut Imam Widodo)

Hayoo tebak, nang ndi panggonane kolam iwak sing jumlah-e kudu 9 iku? 

kolam ikan koi yang jumlahnya harus 9
Iku loh, Rek. Panggonane kolam legendaris sing jumlah iwak-e kudu 9. Lek iwak-e nambah jumlah-e kudu tetep 9. Koyok sakiki onok 18 iwak, jare mas guide-e  lek dijumlah (1+8=9) tetep 9 kan?hehe (= boso Suroboyoan)

Liburan tipis-tipis akhir tahun 2018 kemarin, kami sekeluarga memang nggak kemana-mana. Selain karena anggaran lagi pas-pasan, hihi. Males juga sih mau bermacet-macet ria di jalan arah ke tempat wisata. Soalnya tiap hari sudah sering kejebak macet saat mau berangkat dan pulang kerja arah Sidoarjo-Surabaya. #ehhngeles

Buat Sobat yang berada di seputar Gerbangkertosusilo, sudah pernah mampir ke Museum House of Sampoerna nggak nih?
Destinasi wisata sejarah Surabaya yang berlokasi di Taman Sampoerna No 6, Krembangan Utara, daerah Pabean Cantian Surabaya ini  dekat loh dengan Jembatan Merah legendaris sepaket dengan Jembatan Merah Plaza-nya. Kabarnya Jembatan Merah Plaza juga merupakan pusat grosir gamis berkualitas di Surabaya. Jadi mudah lah ya akses menuju ke House of Sampoerna ini. Apalagi sejak adanya moda transportasi ‘Surabaya Bus’, Sobat lebih dimudahkan dengan langsung  turun di Terminal Rajawali dilanjut menggunakan transportasi online lain, seperti gojek maupun grab.

Bangunan Museum Haouse of Sampoerna ini awalnya merupakan panti asuhan yatim piatu untuk anak laki-laki milik Belanda, dibeli oleh Pak Liem Seeng Tee pada tahun 1932 dikarenakan perkembangan usahanya yang kian maju dan juga karena adanya anggota baru dalam keluarga beliau, yaitu kelahiran putri ketiga dan keempatnya.

Berada di komplek Taman Sampoerna bangunan bersejarah dengan luas 1,5 hektar ini terdiri dari tiga bangunan. Satu bangunan besar di bagian tengah yang sekarang difungsikan sebagai Museum House of Sampoerna, diapit oleh dua bangunan lebih kecil lainnya di sebelah kiri dan kanannya. Bangunan sebelah kanan saat ini difungsikan sebagai kafe, tempat menjual beraneka suvenir juga mushola. Sedangkan bangunan sebelah kiri sepertinya sering ditutup, info bapak sekuriti yang bertugas waktu itu, bangunan sebelah kiri ini biasanya dipakai untuk jamuan, pameran dan juga sebagai tempat istirahat keluarga. 

Dibuka tiap hari mulai senin sampai dengan minggu, setiap pukul 09.00 pagi hingga pukul 18.00 petang, pengunjung museum tidak dikenakan tiket masuk, loh. Sobat yang ingin berkunjung hanya diwajibkan membawa KTP untuk mengisi buku tamu saja. Ada petugas museum yang tampan dan cantik siap menyambut dan memberikan jawaban dari serangkaian pertanyaan pengunjung.

Foto Pak Liem Seeng Tee bersama istri dan saiyah, hehe
Mengulas tentang House of Sampoerna tentu tak lepas dari mengulas tentang pendirinya lah ya. Siapa coba yang nggak kenal dengan PT HM Sampoerna, salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia ini. Adalah Liem Seeng Tee bocah imigran asal Fujian, Cina yang mencoba keberuntungannya ke Hindia Belanda (=baca Indonesia) pada tahun 1898 bersama ayah dan kakak perempuannya. Namun dikarenakan Sang Ayah jatuh sakit dan akhirnya meninggal, Liem Seeng Tee kecil akhirnya diadopsi oleh salah satu keluarga Tionghoa lainnya di Bojonegoro. Sedangkan kakak perempuannya sudah terlebih dahulu diadopsi oleh keluarga Tionghoa lain di Malaya saat mereka sempat beristirahat dalam perjalanan saat di sana.

Tahun 1800 sepertinya kota Surabaya sudah menjadi kota bisnis dan mempunyai daya tarik tersendiri. Buktinya menurut buku Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe (Dukut Imam Widodo), Surabaya sudah menjadi tujuan para imigran dari Cina, loh. Termasuk keluarga Pak Liem Tioe, ayah Liem Seeng Tee ini. Saat ayahnya meninggal beliau masih sangat belia, yaitu baru berusia 5 tahun. Berkat adopsi keluarga Tionghoa di Bojonegoro inilah akhirnya Liem Seeng Tee kecil bisa mengenal sistem berniaga, bahasa Mandarin dan juga bahasa Hokkian yang nantinya digunakan sebagai modal saat memulai bisnisnya, walaupun tanpa sekolah.

Dikarenakan adanya niat yang kuat untuk memperbaiki nasib setelah menikah di usianya yang ke-19 tahun (1912). Liem Seeng Tee yang awalnya berjualan arang keliling Surabaya dengan hanya mengendaria sepeda engkol roda dua dari hasil bekerjanya sedari kecil itu, akhirnya memutuskan beralih profesi sebagai peracik dan pelinting rokok di sebuah pabrik rokok kecil di Lamongan. 

Keuletan serta kedisiplinan suami istri ini dalam bekerja dan menabung pun akhirnya membuahkan hasil, Liem Seeng Tee dan istrinya Tjian Nio mampu membuka warung kecil di daerah Cantian Pojok. Dan lewat usaha warung kecilnya tersebut Liem Seeng Tee berhasil menemukan pasion bisnisnya dengan mengawali mempromosikan kebolehannya dalam meracik tembakau aneka cita rasa melalui alat linting sederhana di warung kecilnya sesuai pesanan pembeli. 

sepeda engkol yang menemani Pak Liem Seeng Tee
Kegigihan dan keuletan Pak Liem seeng Tee sedari kecil ini pun terus berlanjut, tak hanya melayani rokok pesanan pembeli di warung kecilnya saja, beliau juga tetap menjajakan tembakau keliling Surabaya dengan sepeda engkolnya, loh. Hingga usahanya maju pesat dan Pak Liem pun mendirikan PT Handel Maastchpaij Liem Seeng Tee pada tahun 1913, diusianya yang ke-20 tahun. 
Wouw Warr biasahh Pak Liem ini! Mirip slogan from Zero to Hero saja, ya.

Tahun 1916, terdapatlah seorang pedagang besar tembakau yang sedang mengalami kebangkrutan menawari Pak Liem Seeng Tee tembakau miliknya untuk dibeli dalam waktu hanya 24 jam saja. Inilah titik balik kesuksesan Pak Liem. Walau awalnya sempat ragu karena tidak adanya dana cepat yang beliau miliki, akan tetapi berkat tabungan milik Sang Istri yang berada di bambu rumahnya, akhirnya Pak Liem berhasil membeli semua tembakau milik pengusaha tersebut. Dan, kerajaan bisnisnya pun dimulai.

Seiring dengan kesuksesannya, Pak Liem Seeng Tee pastinya membutuhkan pula lahan baru untuk pabrik dan rumah buat keluarganya. Pilihan pun jatuh pada komplek bangunan seluas 1,5 hektar bekas panti asuhan milik Belanda (1932) seperti yang diceritakan di atas. 

Jadi dulu bangunan utama besar yang sekarang menjadi Museum House of Sampoerna ini berfungsi sebagai gedung pertunjukan dengan nama Sampoerna Theater. Gedung theater terbesar di Surabaya kala itu yang dilengkapi panggung berputar dan lantai buatan untuk efek khusus. Banyak pertunjukan besar yang diselenggarakan di gedung ini, baik drama maupun sirkus, bahkan Charlie Chaplin pun pernah berkunjung ke gedung ini dan Ir Soekarno pun juga pernah berpidato di gedung ini, sehingga Sampoerna Theater pernah menjadi gedung theater terhebat pada masa itu. 
Di sisi lain bangunan sebelah kanan dan kirinya, dahulu digunakan sebagai rumah tinggal Pak Liem dan rumah putranya Swie Hwa untuk mengontrol pekerjaan pabrik.
Namun dengan semakin pesatnya laju rokok kreteknya kala itu. Pada tahun 1961 gedung pertunjukan pun diubah menjadi area melinting tembakau. Dan pabrik rokok yang akhirnya dikenal sebagai Taman Sampoerna ini pun mulai beroperasi sejak tahun 1933 hingga sekarang. 

Setelah Perang Dunia II berakhir dan kesadaran berbahasa Indonesia sedang tinggi-tingginya kala itu, maka nama perusahaan dalam bahasa Belanda ini diubah menjadi PT Hanjaya Mandala Sampoerna pada tahun 1930. 

Konon nama Sampoerna ini diambil dari keinginan Seeng Tee untuk membuat rokok yang sempurna. Seeng Tee juga kerap membanggakan dirinya sebagai Raja Tembakau.
(Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe, Dukut Imam Widodo)

Keinginan yang sempurna Pak Liem Seeng Tee adalah bisa membuat rokok yang sempurna dimulai dengan meracik rokok sesuai pesanan dan selera pembeli. Karena memang diawal berbisnis tembakau Pak Liem Seeng Tee memulainya dengan memperkenalkan ke pelanggan sebagai peracik dan pelinting tembakau dengan berbagai cita rasa pembeli.

ilustrasi racikan souce rokok kreteknya
Menjadi Raja Tembakau adalah mimpi sempurna seorang Liem Seeng Tee. Padahal jika dilihat dari kisah beliau di awal ketika menjadi imigran kecil dari Fujian, Cina di mana akhirnya Sang Ayah jatuh sakit dan meninggal diusianya yang baru 5 tahun itu, walau akhirnya beliau bisa menjadi saudagar tembakau. Sepertinya tanpa keuletan, kegigihan dan keyakinan bahwa mimpinya bakal terwujud, mimpi sempurna itu seolah bagai sebuah kemustahilan saja.

Layaknya orang-orang tempoe doeloe lainnya, dalam sebuah nama yang beliau publikasikan, baik dalam bentuk produk maupun simbol perusahaan selalu mempunyai arti dan filosofi mendalam. Maka filososi kata Sempurna terdapat pula di beberapa sudut ruangan museum ini. 

Yuk mari kita ulik filososfi kata Sempurna ada di mana saja sih dalam Museum House of Sampoerna ini.
1. Anggarda Paramita
Anggarda Paramita
Filosofi dari Bahasa Sansekerta yang artinya Menuju Kesempurnaan ini merupakan kalimat yang berada di bawah simbol PT HM Sampoerna. Terpampang di atas tembok saat menuju ruang ketiga yang lebih luas di lantai satu. Filososfi Anggarda Paramita ini dijadikan simbol dan prinsip oleh Pak Liem See Tee dalam membangun kerajaan bisnis kreteknya. 

2. Dji Sam Soe

Yang artinya angka 2, 3 dan 4 jika dijumlahkan menjadi angka 9 (2+3+4=9). Berada di ruang lantai satu sisi pojok sebelah kanan, Pak Liem juga menganut filosofi masyarakat Cina bahwa angka 9 adalah angka tertinggi dan paling sempurna.
Dan ketika kita amati di kemasan Djie Sam Soe pun terdapat pula 9 bintang, di mana masing-masing bintang memiliki sembilan sudut. Yang artinya kurang lebih sama yaitu menjadi SEMPURNA

3. Kolam Ikan Koi yang Jumlahnya Harus Selalu 9

Kolam Ikan Koi dengan jumlah 9
Ikan Koi dalam kepercayaan masyarakat Cina adalah ikan keberuntungan. Dengan tetap mengadopsi filosofi angka 9 dalam kepercayaan masyarakat Cina, yaitu angka tertinggi dan paling sempurna. Maka jumlah ikan koi yang ada di kolam ikan awal masuk lobi Museum House of Sampoerna ini jumlahnya harus selalu sembilan, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. 

Andaikata ada ikan yang mati dalam kolam maka harus segera diganti dengan Ikan Koi yang lain. Jikalau saat ini Ikan Koi yang ada di kolam tersebut berjumlah 18 artinya tetaplah sama. Yaitu jika angka 1 dan 8 dijumlahkan hasilnya adalah sembilan. Jadi tetap sembilan, kan?

Berjuang dengan sempurna dalam keuletan, kegigihan dan keyakinannya dengan berusaha menggapai hasil yang sempurna adalah motivasi hidup Pak Liem Seeng Tee dalam mengembangkan bisnisnya yang patut kita teladani. Apakah selanjutnya kisah Pak Liem Seeng Tee ini berjalan mulus? Tentulah tidak. 

Pak Liem pun pernah dipenjara dan mengalami kerja paksa di zaman otoriter Jepang. Bahkan kerajaan bisnisnya sempat diberangus pula oleh Jepang waktu itu. Namun semangat, keuletan dan kegigihan beliau tetap tak pernah pudar dalam membangun impian bisnisnya.

Layaknya pebisnis lain beliau juga mengalami jatuh bangun, begitu pula kisah para pewarisnya. Akan tetapi satu hal yang pasti dapat kita ambil hikmah dari kisah Pak Liem Seeng Tee ini. Dengan segala kekurangan yang kita punya, teruslah mengukir mimpi yang sempurna dan berusahalah menggapainya dengan sempurna.
Bisakah kita? Tetap semangat Sobat!

by 
-Kinan-


58 Responses to "Sempurna dibalik Kisah House of Sampoerna"

  1. Terus mengukir mimpi yang sempurna dan berusaha menggapai dengan sempurna...inspiratif penutupnya, Mbak:)
    Aku ke sini 7 tahunan lalu an terkagum-kagum. Sungguh etos kerja pendiri Sampoerna ini patut dijadikan motivasi.
    Filosofi yang dianut pun patut kita jadikan teladan.
    Dan, sepertinya aku ingin mengulang mengunjungi tempat ini untuk ngliatin anak-anak, karena dulu pas diajak ke sini mereka belum mengerti :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk Mb Dian, diulang lagi ke Museum House of Sampoernanya. Jangan lupa kabar-kabar ya mbak, jika jadi ke sana. Biar daku bisa bertemu dengan Mb Dian, hehe.

      Delete
    2. Insya Allah nanti berkabar Mbak Nanik...memang musti diulang karena sekarang aja anak bungsuku sering nanya, aku pernah ke Surabaya kan, buk? Kalau ke Madura? Kalau ke Bromo?
      Duh, itu karena dia ke sana saat masih umur 3 tahun ..jadi ya gitu deh, pasti belum terkenang apa-apa..hahah

      Delete
  2. Ooh dekat jembatan merah ya, waktu ke sby dl lewatin jembatan merah sih cuma gak ngeh krn tujuan kita ke monkasel.

    ReplyDelete
  3. Iya Mbak Dwi deket banget dengan Jembatan Merah Plaza. Ntar google map arah menuju Museum House of Sampoerna, pasti ketemu.

    ReplyDelete
  4. HM Sampoerna ini deket banget sama rumah ibu di surabaya tapi jujur saya belum pernah mampir. Jaraknya padahal tinggal jalan kaki. Next kalo aku ke surabaya aku mampir ah ke museum hm sampoerna ini, tak berbayar pula yah. Jadi bisa mengenal sejarah pendiri tembakau hm sampoerna

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, hayuuk dong mb ke sana. Kan deket rumah ibu, gratis, bersih dan ber-ac loh.
      #promo ����

      Delete
  5. Selama ini cuma tahu kode emitennya HM Sampoerna di Bursa Efek Indonesia adalah HMSP. Tsiaaah, orang saham sebentar-sebentar bahas saham.

    Baru kali ini membaca kisahnya sang pendiri. Benar ya, perjuangan dari nol itu jangan diremehkan. Seperti kita yang nggak pernah tahu akan menjadi apa seorang anak tukang semir sepatu keliling di masa depan. Mungkin dia bisa meramu semir terbaik sepanjang masa nantinya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Buat introspeksi diri juga, bahwa status sosial bukanlah penghalang seseorang untuk bermimpi sempurna. ��

      Delete
  6. aku takut masuk museum ini, karena enggak suka rokok wkwk. Meski inspiratif, tapi ntah kenapa aku hindari. Maafkan bapak sampoerna *emang yang punya nama bapaknya sampoerna wkwk. btw, makasih sharingnya mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe Pak Liem Seeng Tee Mb Stefi, bukan bapak Sampoerna.🤦‍♀️

      Delete
  7. Semangat Pak Liem ini luar biasa ya mba Nanik. Baca kisah inspiratif seperti ini selalu menyenangkan dan membangkitkan semangat. Pas banget baca ini pas saya sedang merasa down

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mb Evita, saya pun baru nyadar nih jika nulis kisah inspiratif dan review, berasa bersemangat banget.��

      Delete
  8. Luar biasa kisah hidupnya ya mba.. bener-bener from zero to hero. Semoga filosofinya yang begitu dalam bisa menjadi inspirasi buat banyak orang. Meski aku anti rokok sih hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya jg anti rokok koq Mb Betty. ��
      Tapi apresiasi banget dg kegigihan dan perjuangan beliau. ��

      Delete
  9. kalau ke surabaya nanti aku mau ngajak mak kinan untuk jadi guide. sudah lana mau ke surabaya belum sempat juga

    ReplyDelete
  10. Di luar produknya yang "enggak banget", etos kerja dan kesungguhannya patut ditiru, ya. Tak heran perusahaan ini sekarang jadi raksasa; ngasih beasiswa dan sering jadi sponsor event penting.

    Btw, ada bau2 tembakau gak museumnya, Mbak? Anak bungsu saya suka nih ikan koi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, filosofi hidup menggapai mimpi bisnisnya saja sih menurut saya yg patut ditiru. ��

      Btw museumnya bersih mbak, ber ac, guide-nya ramah2 koq.
      Di belakang jg ada pabrik dan karyawan pelinting rokoknya.
      Asal jangan kesorean kalau sampai sana, ya mbak.

      Monggo mampir. ��

      Delete
  11. Motivasi hidup Pak Liem Seeng Tee adalah berjuang dengan sempurna dalam keuletan, kegigihan dan keyakinannya dengan berusaha menggapai hasil yang sempurna. Benar2 diterapkan dalam kehidupannya. Jatuh ktk zaman Jepang, mampu bangkit lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mbak Liesdiana.
      Prinsip hidup yang beliau pegang, benar-benar beliau kerjakan dengan keuletan, kegigihan dan mental baja untuk menjemput mimpinya yang sempurna.
      Jadi walau sempat terpuruk pun di jaman penjajahan Jepang, beliau tetap bangkit lagi. (Buku Hikajat Soerabaia, Dukut Imam Widodo)

      Delete
  12. Harus jadi wish list nih kalau ke Surabaya. Musium itu sebetulnya tempat belajar tentang berbagai hal, apalagi seperti musium Sampoerna yang juga mengajarkan tentang semangat juang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, beberapa foto yang ada di museum juga terdapat foto dukungan akan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
      Termasuk foto ketika para pejuang kemerdekaan seperti Ir. Soekarno dan kawan-kawan seperjuangan beliau ketika berorasi di Sampoerna theater sebelum masa kemerdekaan.

      Delete
  13. Kisah yang menarik ya mbak, semoga kita bisa mengambil pelajaran didalamnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak Narti, membelajari Bujang saya juga bagaimana mengambil hikmah saat berkunjung di museum.

      Delete
  14. Aq blm pernah kesini mb ke House of Sampoerno. Suka tempat2 heritage. Eh ada juga filosofi ttg angka 9...kpn2 pngen ahh jln2 ke Srbaya... Tmni ya mba Kinan ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap Mb Erni.
      Bismillah urusan kerjaan aman, saya mah hayuuk saja mbakkuh.
      Inpo2 jika meluncur ke Surabaya, ya mbak.;)

      Delete
  15. Keren ya mbak ceritanya pak Liem ini. Saya pernah baca juga dan selalu takjub. Luar biasa sekali semangat berbisnisnya. Wah, kalau ke sby harus mampir nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Monggo mampir Mbak Eni.
      Untuk istirahat juga ada kafe di sebelah kanan museum koq mbak.

      Delete
  16. Semoga ada pula yang seperti Pak Liem yaah yang menginspirasi, dan daku mau banget ke Museum House of Sampoerna, insyaAllah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Monggo Mbak Fenni mampir kalau ke Surabaya.
      Ada petugas yang cantik dan ganteng siap melayani pengunjung dengan ramah koq mbak.

      Delete
  17. Kata penutupnya inspiring banget, bahwa kekurangan bukan sebuah hambatan untuk mengukir prestasi dan masa depan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe mengingatkan diri sendiri juga koq itu Mbak Icha, konsisten berjuang menggapai mimpilah yang menggerakkan semua hambatan.

      Delete
  18. Penasaran banget aku pengen ke sini mbak. Dari dulu cuma bisa mupeng aja liat temen-temen main ke sini. Next semoga ada waktu buat main ke sini.. seru kayaknya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Monggo mbak, jika ke Surabaya silakan mampir.
      Biar nggak penasaran, hehe.

      Delete
  19. Mbak Kinan menarasikannya dengan manis, saya seakan diajak menyomak sejarah. Sejarah perjalanan hidup seseorang yang tahan banting meski telah jatuh bangun dan alami kepahitan.
    Ada mimpi dan semangat di dalamnya. Ada keyakinan dan kerja keras yang sangat layak diteladani.
    Kita bisa belajar sejarah dari museum, sejarah hidup seseporang mengenai filosofi sempurna.
    Soal angka 9, dalam falsafah masyarakat Cina, Jepang, danm Korea memang angka itu meruakan keberuntungan. Ada ilmu feng shui. Kalau 4 bawa sial. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mbak Rohyati, kita belajar sejarah dari museum.
      Belajar hal positif yang bisa kita teladani.
      Yang kurang baik, ya di skip aja. ;)
      Btw ada juga ya mbak istilah anti angka 4 ya mbak, hehe. :D

      Delete
  20. Belum pernah ke Surabaya,unik ya isi kolam harus 9. Jadi ingat angka sembilan memang angka keberuntungan. Makasih mba, jadi tahu sejarahnya. Semoga suatu hari nanti bisa mamoir ke sana. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga bisa segera sampai ke Surabaya, ya mbak.

      Delete
  21. Sudah lama dengar tempat ini, tapi saya belum berkesempatan kenari. Eniwei ternyata di balik nama sampoerna itu asa kisahnya tersendiri rupanya. Saya pikir ...

    ReplyDelete
  22. Hebatya perjuangannya Pak Liem. Dan yang aku salut adalah ketaatannya pada budaya warisan leluhur. Bahkan dalam segala kegiatan perusahaannya pun ada nilai2 filosofi warisan leluhurnya. Hal yang jarang diterapkan oleh pengusaha2 pribumi indonesia

    ReplyDelete
  23. Walau menentang rokok, tapi buat saya menyimak kisah sukses pebisnis pastinya menyenangkan. Yang udah ke sana juga pada bilang emang keren ya mba. Ternyata nggak cuma tentang rokok aja ya, budaya Cina nya pun juga ada ya.

    ReplyDelete
  24. Kadamg aku tu bingung plus dilema. Rokok tu kan gak baik bagi kesehatan. Anehnya iklan iklannya leren kadang inspiratif, dan ini dibalik rokok kisah suksesnya latit kita demgar baik baik... hemmm ambil positifnya aja yaaa lita

    ReplyDelete
  25. Ternyata perjuangan pak Liem luar biasa banget ya mbak. Temenku pernah cerita kalau liburan juga mampir ke sini, next bisa jadi referensi kunjungan saat liburan di surabaya neh

    ReplyDelete
  26. Ke Surabaya cuma lewat, belum pernah singgah. Kisah perjuangan hidupnya bagus sekali ditiru hal2 baiknya. Profil seperti ini yang didamba masyarakat ya. Semua dimulai dari nol hingga besar banget. Aku suka berkunjung ke museum Kalau kpn2 liburan, mau ah mampir, kud pake guide kayaknya biar dengerin ceritanya seru.

    ReplyDelete
  27. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa2 pahlawannya. Ini saya kira linier dengan House of Sampoerna. Perusahaan yang besar dan survive adalah perusahaan yang tidak melupakan perjalanan para pendirinya :D

    ReplyDelete
  28. Semoga bisa mampir ke sini kalo kebetulan ke surabaya. Biasanya cuma ke bonbin teruuuus itupun pada zaman dahulu. Padahal ada banyak banget tempat keren dan recommended ya mbak di Surabaya.

    ReplyDelete
  29. Aku belum pernah ke House of Sampoerna ini. Baca tulisan Mba Nanik, jadi tau sejarah Sampoerna dan filosofinya. Pebisnis selalu punya cerita jatuh bangun yang layak jadi pelajaran untuk kita.

    ReplyDelete
  30. Suka ke sini. Terlebih di SHT-nya. Kan tiket itu bus keliling gratis. Hehe

    ReplyDelete
  31. Suka ke sini. Terlebih di SHT-nya. Kan tiket itu bus keliling gratis. Hehe

    ReplyDelete
  32. Saya tu paling suka membaca kisah perjalanan orang sukses. Pengin bisa meniru kegigihan mereka. Juga belajar dari angka 9, yang menurut mereka adalah angka sempurna, karena setelah itu kembali lagi ke angka 1 Dan 0.

    ReplyDelete
  33. Penasaran, bahasa jawa di atas itu artinya apa?translate dong...btw keren cerita pengalaman bisnisnya sampai bisa bangkit lagi walau usahanya dihancurkan

    ReplyDelete
  34. Kalo di Jakarta ada gedung Sampoerna juga tp yg dipelihara bukan koi melainkan arwana 😬😬 sama2 mehong
    Semangat si kokoh boleh ditiru tp ciptaannya jgn ditiru, sebab merokok dpt menyebabkan impotensi, gangguan kehamilan dan janin 😬😬

    ReplyDelete
  35. Wah aku dulu kurang jauh nih mainnya waktu kuliah di Malang padahal sering k Surabaya, tapi baru tau The House of Sampoerna ini. Dengan harus adanya 9 koi ini bikin menarik banget dan suka banget sama kisah perjuangan pak Liem dalam membangun usahanya ya, well noted sebagai kaum millenial udah pasti banget harus percaya akan mimpi!

    ReplyDelete
  36. Baca perbincangan di awal cerita ini, bertanya-tanya kenapa ikan koinya selalu berjumlah 9. Pas baca ke bawah, terjawab sudah. Bener bener, angka 9 mmg angka tertinggi menurut filosofi china

    ReplyDelete
  37. Saya selalu suka baca kisah yang inspiratif.

    ReplyDelete
  38. Aku udah 2X ke situ, engga bosen. Cafe restonya bikin adem, aku cocok sih menunya. Dulu ada teh cengkeh...enak anget...

    ReplyDelete
  39. Waah, saya belum pernah kesana mbak. Mupeng banget nih jadinya. Kalau ajak keluarga, mereka pasti pada senang banget mbak

    ReplyDelete

tambahkan teks diatas kolom komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel