Para Pejuang Bebas Riba


                              


Judul Buku: Hidup Tenang Tanpa Riba
Penulis: Dwi Suwiknyo dan Penulis Lainnya
Tahun Terbit: Maret 2018
Penerbit: DIVA Press
Jumlah halaman: 252 halaman
ISBN: 978-602-391-524-8

Pinjaman atau berutang dalam bentuk apapun awalnya bagai angin segar di tengah masalah pelik keuangan yang menuntut penyelesaian serba cepat. Dengan segala kemudahan serta fasilitas menarik yang ditawarkan, terlebih di saat kita dalam keadaan belum mampu, namun hasrat untuk membeli suatu barang sangat tinggi dengan alasan kebutuhan, padahal sudah jelas harga yang tertera di luar daya beli.

Kemudahan mendapatkan kredit di era sekarang seakan merupakan solusi yang bisa dibenarkan. Hal ini dikarenakan begitu gencarnya promosi dari pihak bank pemberi kredit. Serta fasilitas pelayanan dengan sistem cicilan yang bisa disesuaikan dengan kemampuan peminjam.

Namun selunak apapun cara pembayarannya dan juga selama apapun tempo pembayarannya, tetap saja sebagai pemohon kredit kita wajib membayarnya sampai lunas. Ada yang peraturannya lebih fleksibel dan tidak terlalu mengikat, tapi tidak sedikit pula yang aturannya kejam membuat miris, apalagi jika perhitungan pinjaman yang diakadkan dengan mengunakan sistem riba yakni bunga berbunga, ibarat kita sudah menggadaikan kebebasan juga keberkahan dari Yang Maha Kuasa.

Hidup sederhana tanpa riba jauh lebih menenangkan dibandingkan kaya raya dengan utang riba di mana-mana. (hal 10)
Penggalan kalimat di atas adalah Quote dari kisah “Gurita” Itu Bernama Riba yang ditulis oleh Annisa Pratiwi. Merupakan salah satu kisah yang terdapat dalam buku ini. 
Menceritakan tentang sebuah keluarga kecil yang berkeinginan memiliki sebuah rumah tinggal untuk berteduh dan berlindung, juga privasi bagi keluarga kecil mereka yang masih baru.

“Kalau tidak berutang mana mungkin punya rumah. Apa salahnya, toh hitung-hitung menabung. Jika ingin mengumpulkan uang dulu, bayangkan butuh berapa tahun, Lima Belas tahun? Itu bukan waktu yang singkat. Terus kamu akan berpinda-pindah kontrakan gitu?” Pak Mo memaparkan argumentasinya di hadapan aku dan Mas Pram yang kala itu kebingungan belum memiliki rumah. (hal. 10)
Kondisi di atas yang akhirnya membuat keluarga kecil ini memutuskan untuk membeli sebuah rumah dengan sistem KPR. 

Di lima tahun awal cicilan rumah terbayar tanpa kendala, hingga dua anak tambahan telah hadir mengisi rumah sederhana mereka. Namun pada tahun ke enam cicilan, keuangan kantor suaminya mulai bergejolak bersamaan dengan anak-anak yang yang mulai memasuki masa sekolah, hingga akhirnya cicilan rumah baru bisa terbayar setelah tiga bulan terlewati. Alhasil debt collector mulai rajin bersilaturahmi untuk mengingatkan bahwa  cicilan sudah terlewat dan perlu segera dibayar.

“Bunga dan cicilan yang harus dibayarkan sebesar lebih dari 2,5 juta. Duit dari mana lagi? Sedangkan untuk makan sehari-hari saja sudah minus.”  (hal. 14) Merupakan penggalan kalimat bagaimana gundahnya keluarga kecil ini.
Dari istri yang hanya ibu rumah tangga, akhirnya memutuskan mencari tambahan meskipun jangkauan geraknya tak seleluasa saat masih lajang, karena ada dua balita dalam pengasuhannya. Sedangkan kondisi keuangan kantor suami pun tak kunjung membaik, utang riba terus berjalan, uang iuran sekolah anak-anak juga tidak bisa menunggu, menuntut untuk segera dibayarkan.
Gurita riba mulai menjerat keluarga kecil ini!

Keseluruhan kisah mengulas dengan lugas bagaimana riba bisa masuk dalam aktivitas sehari-hari meskipun akhirnya menyadari efek buruk dahsyatnya sistem pinjaman bunga berbunga ini, yang mengakibatkan terjeratnya kebebasan pemakai sistemnya begitu juga kehilangan keberkahan karena tidak sesuai dengan ajaran agama. 
Ending dalam setiap kisah, mengulas perjuangan para pemakai riba saat berniat terbebas dari riba hingga akhirnya benar-benar terbebas dari riba, walaupun bukan hal yang mudah.

Setiap kisah diakhiri dengan pesan hikmah dari penulis melalui jendela inspirasi, sehingga pembaca bisa lebih memahami pesan hikmah yang ingin disampaikan oleh penulis.
Dari kisah-kisah yang terangkum, pembaca bisa merasakan betapa perjuangan untuk keluar dari jerat riba tidaklah mudah. Mengubah pola pikir dan gaya hidup untuk mulai menjadi pribadi sederhana adalah tindakan awal dalam berjuang melawan pusaran riba ini.

Keteguhan hati disertai niat dan tekad bulat agar tidak tergoda dengan riba merupakan kunci utama keluar dari pusaran riba, dalam jendela inspirasi kisah Malaikat yang Keliru.(hal. 94)
Skenario Allah Swt tetap lebih cantik dari semuluk-muluknya rencana manusia. Serahkan semua pada Allah Swt. Tugas kita hanya menjalani dengan hati ikhlas, walaupun pedih jalur yang harus kita lalui. 

Dan jika kita merasa tak mampu lagi berdiri dengan kaki kita, maka bersimpuhlah di hadapan Allah Swt, mintalah keinginan menyelesaikan masalah riba ini. Karena Allah Swt tak kan tega mendiamkan hamba-Nya yang merayu mendayu dalam do’a, dalam jendela inspirasi kisah Kamu Tahu? Bahkan Motor Butut Itu Lebih Membuatmu Terhormat Dibanding Motor Baru yang Riba. (hal 61)

Buku yang diterbitkan DIVA Press ini ditulis oleh Dwi Suwiknyo dan 14 penulis lainnya, merupakan kumpulan penulis dari berbagai latar belakang pendidikan juga profersi, seperti dokter, apoteker, PNS, penulis juga ibu rumah tangga. Beberapa penulis pernah menjuarai lomba dan sudah pernah mengkaryakan bukunya.

Terdiri dari kisah-kisah inspiratif dari para penulis yang merupakan pejuang bebas riba, yang telah memperjuangakan diri dan keluarga mereka dari pusaran riba.
Dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami dan juga memberikan tauladan, bagaimana cara berjuang dari ketidaknyamanan jeratan pusaran riba ini, serta tetap menyampaikan kutipan Al Qur’an dan hadist Nabi terkait dosa riba, membuat buku ini layak dijadikan panduan ilmu agar kita bisa menjauhi riba.

-Kinan-

25 Responses to "Para Pejuang Bebas Riba"

  1. Memang ya mba kadang godaan kredit itu melambai-lambai mesra, indaah banget... Padahal dibalik bunga itu ada jeratan yang bisa membuat hati terpenjara. Makjleb banget yang motor butut lebih baik dr motor baru yang riba. Terima kasih sudah diingatkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 mbak, saya juga belajar setelah membaca buku ini.
      Motor butut di kisah di atas adalah motor gedhe orang laki mbak, tapi yang pakai bu dokter imut.
      Kebayang bagaimana saat beliau berusaha menghentikan motor gedhenya tadi dengan tubuh kecil beliau.
      Bikin terenyuh ngebacanya. Apalagi saat motor gedhe tadi mogok, padahal rumah beliau di pinggir kota.
      Sangat inspiratif kisahnya.
      Boleh dicoba baca mbakkuh.
      Dikemas dengan santai koq bukunya ;)

      Delete
  2. Riba dimana-mana hingga sulit terlepas dari belenggu riba. Kadang kondisi kepepet kebutuhan anak sekolah, anak sakit, dan kebutuhan mendesak lain hingga terjerumus kedalam kubangan riba. Saya juga sedang belajar lepas dari riba. Semoga Istiqamah. Jadi tergoda beli buku nya juga saya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin mbak, semoga kita bisa istiqomah.
      Meskipun pasti tidak mudah. Setidaknya sudah ada niat. (ngingetin diri sendiri)
      Saya juga belajar banyak dari kisah para pejuang keluar dari kisaran riba ini.
      Buku ini dikemas sangat santai, dan tidak terkesan menggurui.
      Boleh dicoba mbakkuh ;)

      Delete
  3. Saya bercuta-cita bebas riba mb, ini sedang berupaya. Doakan bisa lepas juga yaa.Bukunya menarik jd pengen belu...��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin mbak, bismillah kita bisa ya mbak.
      Saya juga terinspirasi dari buku ini.

      Delete
  4. Dijaman ini sangat sulit menghindari riba, mulai dari pinjaman lunak, jartu kredit nol bunga,bikin kita hilaf

    Semoga bisa terhindar dari riba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ...
      Benar mbak, pasti sulit.
      Godaannya banyak, tuntutan hidup juga banyak, hehehe.
      Di buku ini kisah2 inspiratif dari para penulis benar2 sangat memukau, saat beliau2 bertekad keluar dari pusaran riba.
      Butuh perjuangan dan tekad yang kuat, serta komitmen yang tinggi.
      Karena itu bagi saya, beliau2 adalah para pejuang bebas riba.
      Karena untuk bebas dari riba, memang butuh perjuangan. :)

      Delete
  5. Selalu yah kalo tema tentang riba suka ngingetin saya k kerjaan saya yang lama dan udah saya tinggalin memilih ngabdi sama suami.. lebih baij gak punya mba drpd harus ngeriba..soalnya ngeri banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Megha Hebatt 👍
      Pasti ndk mudah ya mbak?
      Semoga gusti Alloh selalu memberikan kemudahan dan keberkahan buat Mb Megha dan keluarga, Aamiin

      Delete
  6. Hidup sederhana tanpa riba jauh lebih menenangkan dibandingkan kaya raya dengan utang riba di mana-mana. Kalimat ini jleb banget.
    Oh yah untuk dapatkan bukunya, beli di mana yah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya belinya di gramdedia mbak.
      Bukunya asyik banget, dikemas santai dan tidak menyalahkan, apalagi menggurui.

      Berharap kita yang baca sadar saja.
      Bagaimana riba itu dan dampaknya mbak.

      Selamat membaca mbakkuh 😊

      Delete
  7. pasti bagus nih bukunya,pengen kasih sama seseorang deh biar sadar betapa riba dapat mencekik kehidupan. Makasih sharingnya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 bunda ...
      Bismillah teman bunda jadi paham ya bun.
      Semoga mendapatkan pencerahan dan keberkahan-Nya.
      Aamiin

      Delete
  8. Buku yang inspiratif ini. Mengingat saat ini hutang sedemikian mudahnya jadi pilihan orang untuk memenuhi beragam kebutuhan, bahkan bukan untuk kebutuhan pokok. Miris!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mbak Dian.
      Jika kita mau jujur, bagaimana harga tanah sekarang naiknya ndak ketulungan.
      Jika kita sadar, itu juga dampak dari gurita riba yang selama ini kita kerjakan.

      Delete
  9. Riba memang begitu menggiurkan. Karena terlalu mudah sampai bikin orang nggak berpikir panjang dengan efeknya. Bahkan riba sudah menjangka kebutuhan konsumtif. Sungguh mengerikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mbak Damar.
      Pola konsumtif perlu untuk ditinggalkan.
      Dan kita wajib kembali pada pola menabung, bukan berhutang.
      Semoga gusti Alloh swt memudahkan langkah kita yaa mbak.
      Aamiin

      Delete
  10. Saya juga masih berjuang dari bebas riba. Masih terseok-seok. Sekarang godaanya makin banyak, lebih gampang diakses dan ga ribet...godaan terbesar emak-emak, apalagi kalo udah berlabel 'bisa di cicil' .... jadilah tu nyicil padahal ga penting-penting banget itu barang. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, serasa mudah yaa mbak.
      Suami saya juga sempat begitu, untuk modal beliau memakai kartu kre**t.
      Baru nyadar sàat bisnis sedang memgalami masa stuck, ternyata kami tidak punya modal.
      Tapi tetap terus membayar hutang, hehehe
      Sejak itu, kami benar2 mulai menjauhi riba mbak.
      Bismillah ... 😊

      Delete
  11. Ouh ituuuu sangat mengingatkan ke arah yang benar..saya suka tergoda kredit...duh...semoga rejeki saya dilancarkan..so ga ada kredit lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bismillah bun, diniatkan dan berusaha istiqomah.
      Bismillah, semangatt bunda ;)

      Delete
  12. Nanti sudah gajian saya mau beli ini deh. Biar punya motivasi untuk terus berjuang keluar dari Riba. Hiks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yukk mbak, buruan ke Gramed atau Toga Mas. Khawatir kehabisan.

      Delete

tambahkan teks diatas kolom komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel